Pedoman Penulisan Karya Ilmiah-Materi Supercamp PTNA
PENULISAN
KARYA ILMIAH
Disusun Oleh:
Titin Harti Hastuti, S.P.
Pesantren Terpadu Nurul Amanah
Jalan Raya Tasikmalaya Garut km 31 Rancak Neglasari Salawu
Tasikmalaya 46471-0165 547520
BAB I. MENGENAL KARYA TULIS
ILMIAH
A.
Pengertian Karya Ilmiah
Sebuah karya tulis yang mengungkapkan suatu pembahasan
lengkap dan ilmiah mengenai suatu tema tertentu yang dituliskan oleh seorang
penulis.
Isi Karya Ilmiah dapat berupa:
1.
Pemberitahuan mengenai sesuatu hal secara logis dan
sistematis kepada para pembaca.
2.
Jawaban mengenai sesuatu hal yang di teliti
3.
Pembuktian terhadap sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan
tersebut.
4.
Pengungkapan tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan
belum pernah ditulis oleh orang lain agar terlihat beda dan terkesan baik
5.
Kajian ilmiah dengan prosedur kerja ilmiah.
6.
Makalah atau laporan penelitian
B.
Gaya Penulisan Karya Ilmiah
1.
gaya penulisan deskriptif, merupakan gambaran tertulis yang
mana penulis berusaha menggambarkan detail benda-benda atau gelaja yang terjadi
dalam bentuk kata-kata;
2.
gaya penulisan berbentuk naratif, merupakan jenis gaya
penulisan yang menyajikan suatu rangkaian cerita dari suatu kejadian;
3.
gaya penulisan ekspositoris atau penjabaran, gaya penulisan
jenis ini menjelaskan dan menafsirkan fakta dan gejala yang timbul dari suatu
kejadian;
4.
gaya penulisan argumentatif, gaya penulisan jenis ini
mengemukakan fakta pendukung dari penulis dengan menyajikan alasan-alasan.
5.
gaya penulisan persuatif, gaya penulisan yang mengemukakan
pendapat disertai fakta
C. Ciri Karya Ilmiah
Dalam karya ilmiah ada 4 aspek yang menjadi karakteristik
utamanya, yaitu:
1. Struktur sajian
Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri
dari bagian awal (pendahuluan).bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian
penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti
merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari
beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan
serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
2. Komponen dan substansi
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya,
namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan
daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya
abstrak.
3. Sikap penulis
Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang
disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak
menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau
kedua.
4. Penggunaan bahasa
Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku
yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif
dengan struktur yang baku.
Ciri Karya ilmiah yang baik:
Ditulis
dalam bahasa yang baik dan benar, serta tidak menimbulkan salah penafsiran bagi
pembacanya
Disertai
fakta yang akurat dan meyakinkan
Informasi
yang disajikan lengkap
Menarik
dan enak dibaca
D.
Tujuan-tujuannya antara lain sebagai berikut:
1. Untuk menyampaikan
ide, maksudnya pokok permasalahan yang ada agar lebih mudah dipahami oleh
pembaca maka penulis karya ilmiah membuat dalam bentuk karya ilmiah tersebut.
2. Untuk melatih kemampuan menulis,
3. Sebagai tradisi ilmiah, maksudnya
dalam pendidikan di bangku kuliah sering mendapat tugas untuk membuat
karya ilmiah yang mana memiliki suatu kebanggaan tersendiri.
4.Sebagai tugas akhir, dalam pendidikan di
universitas karya ilmiah juga menjadi salah satu syarat kelulusan. Seperti pada
skripsi untuk S1, Tesis untuk S2 dan Disertasi untuk mahasiswa S3.
5. Digunakan untuk menunjukkan eksistensi
dari penulis tersebut melalui karya ilmiah yang dihasilkan.
E.
Tema Karya Ilmiah
Tema yang diangkat dalam suatu karya ilmiah adalah hal yang
dapat dibahas secara logis dan dapat dikemukakan berdasar landasan keilmuan.
Contoh Tema Karya Ilmiah
1.
Tema besar: Bahaya narkoba
Tema kecil :
-Bahaya narkoba terhadap kesehatan
-Bahaya narkoba terhadap prestasi belajar siswa
-Bahaya narkoba jenis tertentu terhadap kesehatan ginjal
2. Tema besar: Potensi
wisata pantai di Indonesia
Tema kecil:
-Potensi wisata Pantai Cipatujah
-Potensi wisata Pantai Pangandaran
-Potensi ekonomi Pantai Cipatujah
3. Tema besar: Polusi
udara karena pengaruh teknologi
Tema kecil:
- polusi udara oleh
kendaraan bermotor
- polusi udara oleh
asap pabrik
- polusi udara oleh
asap pabrik di kota Jakarta
4. Tema besar: Agama
dan peradaban
Tema kecil:
-Pengaruh Islam di
Eropa
-Kerajaan Islam di
Indonesia
-Kerajaan Hindu di
Bali
-Kerajaan Islam di
Pulau Jawa
E. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah
1. Isi
dan Materi
a. Relevan dengan situasi dan kondisi yang ada
b. Mempunyai pokok permasalahan yang jelas.
c. Masalah dibatasi, sesempit mungkin.
2.
Bentuk,Struktur/Sistematika Karya Tulis Ilmiah
A. Bagian Awal.
Bagian Awal ini terdiri dari:
1. Halaman Judul
2. Lembar Pernyataan
3. Lembar Pengesahan
4. Abstraksi
5. Halaman Kata Pengantar
6. Halaman Daftar Isi
7. Halaman Daftar Tabel
8. Halaman Daftar Gambar: Grafik, Diagram, Bagan, Peta dan sebagainya
B. Bagian
Tengah.
Bagian tengah ini terdiri dari: 1. Bab Pendahuluan
2. Bab Landasan Teori atau Bab Tinjauan Pustaka
3. Metode Penelitian.
4. Bab Analisis Data dan Pembahasan
5. Bab Kesimpulan dan Saran
C. Bagian
Akhir.
Bagian akhir terdiri dari:
1. Daftar Pustaka
2. Lampiran
II. SISTEMATIKA KARYA TULIS ILMIAH
A. BAGIAN AWAL
Pada bagian ini
berisi hal-hal yang berhubungan dengan penulisan karya tulis ilmiah yakni
sebagai berikut :
1. Halaman
Judul
Ditulis sesuai dengan cover depan sesuai aturan yang ada.
2. Lembar
Pernyataan: Yakni merupakan halaman yang berisi pernyataan bahwa penulisan
karya tulis ini merupakan hasil karya sendiri bukan hasil plagiat atau
penjiplakan terhadap hasil karya orang lain.
3. Lembar
Pengesahan :Pada Lembar Pengesahan ini berisi Daftar Komisi Pembimbing atau
guru pembina, Pada Bagian bawah sendiri juga disertai tanda tangan Pembimbing.
4. Abstraksi : Yakni
berisi ringkasan tentang hasil dan pembahasan secara garis besar dari Penulisan
karya tulis dengan maksimal 1 halaman.
5. Kata
Pengantar : Berisi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut berperan
serta dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan karya tulis (a.l. Kepala
Sekolah, Guru, rekan dll ).
6. Halaman
Daftar Isi : Berisi semua informasi secara garis besar dan disusun berdasarkan
urut nomor halaman.
7. Halaman
Daftar Tabel
8. Halaman Daftar Gambar, Daftar Grafik, Daftar Diagram
B. BAGIAN
TENGAH
1. Pendahuluan
Pada Bab Pendahuluan ini terdiri dari beberapa sub pokok bab yang meliputi
antara lain :
a. Latar Belakang Masalah: Menguraikan tentang alasan dan motivasi dari penulis
terhadap topik permasalahan yang bersangkutan.
b. Rumusan Masalah : Berisi masalah apa yang terjadi dan sekaligus merumuskan
masalah dalam penelitian yang bersangkutan.
c. Batasan Masalah: Memberikan batasan yang jelas pada bagian mana dari
persoalan atau masalah yang dikaji dan bagian mana yang tidak.
d. Tujuan Penelitian : Menggambarkan hasil-hasil apa yang bisa dicapai dan
diharapkan dari penelitian ini dengan memberikan jawaban terhadap masalah yang
diteliti.
e. Metode Penelitian: Menjelaskan cara pelaksanaan kegiatan penelitian,
mencakup cara pengumpulan data, alat yang digunakan dan cara analisa data.
Jenis-Jenis Metode Penelitian :
a. Studi Pustaka : Semua
bahan diperoleh dari buku-buku dan/atau jurnal.
b. Studi Lapangan : Data
diambil langsung di lokasi penelitian.
c. Gabungan : Menggunakan
gabungan kedua metode di atas.
f. Sistematika Penulisan
Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari Penulisan Karya tulis ilmiah
2. Landasan
Teori
Menguraikan teori-teori yang menunjang penulisan / penelitian, yang bisa
diperkuat dengan menunjukkan hasil penelitian sebelumnya.
3. Metode
Penelitian
Menjelaskan cara pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan alat-alat
analisis yang ada.
4. Analisis
Data dan Pembahasan
Membahas tentang keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang diperoleh dari
masalah yang diajukan kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan metode
yang diajukan dan menganalisa proses dan hasil penyelesaian masalah.
5. Kesimpulan
(dan Saran)
Bab ini bisa terdiri dari Kesimpulan saja atau ditambahkan Saran.
- Kesimpulan
Berisi jawaban dari masalah yang diajukan penulis, yang diperoleh dari
penelitian.
- Saran
Ditujukan kepada pihak-pihak terkait, sehubungan dengan hasil penelitian.
C. BAGIAN AKHIR
- Daftar
Pustaka
Berisi daftar referensi (buku, jurnal, majalah, dll), yang digunakan dalam
penulisan
- Lampiran
Penjelasan tambahan, dapat berupa uraian, gambar, perhitungan-perhitungan,
grafik atau tabel, yang merupakan penjelasan rinci dari apa yang disajikan di
bagian-bagian terkait sebelumnya.
BAB III. STANDAR TEKNIK PENULISAN
1. Penomoran Bab serta subbab
- Bab dinomori dengan menggunakan angka romawi.
- Subbab dinomori dengan menggunakan angka latin dengan mengacu pada nomor
bab/subbab dimana bagian ini terdapat.
II ………. (Judul Bab)
2.1 ………………..(Judul Subbab)
2.2 ………………..(Judul Subbab)
2.2.1 ………………(Judul Sub-Subbab)
- Penulisan nomor dan judul bab di tengah dengan huruf besar, ukuran font 14,
tebal.
- Penulisan nomor dan judul subbab dimulai dari kiri, dimulai dengan huruf
besar, ukuran font 12, tebal.
2.
Penomoran Halaman
- Bagian Awal,
nomor halaman ditulis dengan angka romawi huruf kecil (i,ii,iii,iv,…).Posisi di
tengah bawah (2 cm dari bawah). Khusus untuk lembar judul dan lembar
pengesahan, nomor halaman tidak perlu diketik, tapi tetap dihitung.
- Bagian Pokok, nomor halaman ditulis dengan angka latin. Halaman pertama dari
bab pertama adalah halaman nomor satu. Peletakan nomor halaman untuk setiap
awal bab di bagian bawah tengah, sedangkan halaman lainnya di pojok kanan atas.
- Bagian akhir, nomor halaman ditulis di bagian bawah tengah dengan angka latin
dan merupakan kelanjutan dari penomoran pada bagian pokok.
3.
Judul dan Nomor Gambar / Grafik / Tabel
- Judul gambar
/ grafik diketik di bagian bawah tengah dari gambar. Judul tabel diketik di
sebelah atas tengah dari tabel.
- Penomoran tergantung pada bab yang bersangkutan, contoh : gambar 3.1 berarti
gambar pertama yang ada di bab III.
4.
Penulisan Daftar Pustaka
- Ditulis
berdasarkan urutan penunjukan referensi pada bagian pokok tulisan ilmiah.
- Ditulis menurut kutipan-kutipan
- Menggunakan nomor urut, jika tidak dituliskan secara alfabetik
- Nama pengarang asing ditulis dengan format : nama keluarga, nama depan.
Nama pengarang Indonesia ditulis normal, yaitu : nama depan + nama keluarga
- Gelar tidak perlu disebutkan.
- Setiap pustaka diketik dengan jarak satu spasi (rata kiri), tapi antara satu
pustaka dengan pustaka lainnya diberi jarak dua spasi.
- Bila terdapat lebih dari tiga pengarang, cukup ditulis pengarang pertama saja
dengan tambahan ‘et al’.
- Penulisan daftar pustaka tergantung jenis informasinya yang secara umum
memiliki urutan sebagai berikut :
Nama Pengarang, Judul karangan (digarisbawah / tebal / miring), Edisi, Nama
Penerbit, Kota Penerbit, Tahun Penerbitan.
- Tahun terbit disarankan minimal tahun 2000.
Contoh
penulisan daftar pustaka
Satu Pengarang
1. Budiono. 1982. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta : Bagian
Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.
2. Friedman. 1990. M. Capitalism and Freedom. Chicago : University of
Chicago Press.
Dua Pengarang
1. Cohen, Moris R., and Ernest Nagel. 1939. An Introduction to Logic and
Scientific Method. New york: Harcourt
2. Nasoetion, A. H., dan Barizi. 1990. Metode Statistika. Jakarta: PT. Gramedia
Tiga Pengarang
1. Heidjrahman R., Sukanto R., dan Irawan. 1980. Pengantar Ekonomi
Perusahaan. Yogyakarta: Bagian penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.
2. Nelson, R.., P. Schultz, and R. Slighton. 1971. Structural change in a
Developing Economy. Princeton: Princeton University Press.
Lebih dari Tiga
Pengarang
1. Barlow, R. et al. 1966. Economics Behavior of the Affluent.
Washington D.C.: The Brooking Institution.
2. Sukanto R. et al. 1982. Business Frocasting. Yogyakarta: Bagian
penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.
Pengarang Sama
1. Djarwanto Ps. 1982. Statistik Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Bagian
penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.
2. ____________. 1982. Pengantar Akuntansi. Yogyakarta: Bagian penerbitan
Fakultas Ekonomi UGM.
Tanpa Pengarang
1. Author’s Guide. 1975. Englewood Cliffs, N.J. : Prentice Hall.
2. Interview Manual. 1969. Ann Arbor, MI: Institute for Social Research,
Universiy of Michigan.
Buku
Terjemahan, Saduran atau Suntingan.
1. Herman Wibowo (Penterjemah). 1993. Analisa Laporan Keuangan. Jakarta:
PT. Erlangga.
2. Karyadi dan Sri Suwarni (Penyadur). 1978. Marketing Management.
Surakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
Buku Jurnal
atau Buletin
1. Insukindro dan Aliman, 1999. “Pemilihan dan Bentuk Fungsi Empirik : Studi
Kasus Permintaan Uang Kartal Riil di Indonesia”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Indonesia, Vol. 14, No. 4:49-61.
2. Granger, C.W.J., 1986. “Developments in the Study of Co-integrated Economic
Variables”, Oxford Bulletin of Economics and Statistics, Vol.48 :
215-226.
5.
Format Pengetikan
- Menggunakan
kertas ukuran A4.
- Margin Atas : 4 cm Bawah : 3 cm
Kiri : 4 cm Kanan : 3 cm
- Jarak spasi : 1,5 (khusus ABSTRAKSI hanya 1 spasi)
- Jenis huruf (Font) : Times New Roman.
- Ukuran / variasi huruf : Judul Bab 14 / Tebal + Huruf Besar
Isi 12 / Normal
Subbab 12 / Tebal
6.
Hasil Penulisan Karya tulis ilmiah
- Dijilid
berbentuk buku. Halaman tidak termasuk cover, halaman judul, daftar isi, kata
pengantar dan daftar pustaka
- Dipresentasikan di hadapan para penguji, usahakan menggunakan Power Point.
- Usahakan diketik dengan menggunakan Program Software Pengolah Kata, misal :
Ms Word dan dicetak dengan printer.
LAMPIRAN.
Lampiran ini berisi data, gambar, tabel atau analisis dan lain-lain yang karena
terlalu banyak, sehingga tidak mungkin untuk dimasukkan kedalam bab-bab
sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
• Panduan Penulisan Ilmiah, 2007, Jurusan Sistem Informasi,
STMIK-Mikroskil.
• Notohadiprawiro, T., 2006, Metode Penelitian dan Penulisan Ilmiah,
Latihan Dasar Pemeriksa Karantina Ikan. Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian,
Departemen Pertanian Yogyakarta. 2 Nopember – 15 Desember 1992
BAB IV. SEKILAS TENTANG
MAKALAH
Banyak
ragam dan jenis tulisan yang termasuk karya ilmiah, misalnya makalah, artikel
penelitian, artikel ilmiah populer, buku, modul, atau buku pelajaran. Bentuk
tulisan ilmiah tersebut sering dinamakan karya tulis ilmiah.
Makalah merupakan karangan yang disusun untuk dibahas dalam sebuah pertemuan
ilmiah, misalnya diskusi, seminar, simposium, dan lain-lain.
1. Ciri-ciri makalah
Ciri-ciri pokok sebuah makalah adalah
objektif, tidak memihak, berdasarkan fakta, sistematis, dan logis. Berdasarkan ciri-ciri
tersebut, baik tidaknya suatu makalah dapat dilihat dari kebermaknaan masalah
yang dibahas, kejelasan tujuan pembahasan, kelogisan pembahasan, dan keruntutan
penulisannya.
2. Sistematika
penulisan makalah seperti di bawah ini.
Pada
dasarnya makalah terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian tubuh dan
pelengkap. Bagian tubuh terdiri atas pendahuluan, isi/pembahasan, dan
penutup.Bagian pelengkap terdiri atas: judul, kata pengantar,
daftar isi, dan daftar pustaka.
Secara rinci bagian-bagian makalah sistematikanya sebagai berikut.
a. Halaman judul
Judul adalah nama karangan. Judul harus sesuai
dengan isinya karena judul mencerminkan isi. Judul biasanya berupa
kelompok kata (bukan kalimat).
Judul ditulis dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:
1) Dirumuskan secara
singkat
2) Mencerminkan area
permasalahan,variabel penelitian dan targetpopulasi
3) Memuat kata-kata
kunci yang akan diacu dalam penelitian
4) Memisahkan antara
judul utama dan judul pelengkap
b. Kata pengantar
Dalam kata pengantar dicantumkan ucapan
terimakasih penulis yang ditujukan kepada orang-orang, lembaga, organisasi,
dan/atau pihak-pihak lain yang telah membantu dalam mempersiapkan, melaksanakan
dan menyelesaikan karya ilmiah tersebut. Tulisan kata
pengantar dikerik dengan huruf kapital, simetris di batas atas bidang
pengetikan dan tanpa tanda titik. teks pada pengantar diketik dengan spasi
ganda (2 Spasi). Panjang teks tidak lebih dari dua halaman kertas kuarto. Pada
Bagian akhir teks (di pojok kanan-bawah) dicantumkan kata penulis tanpa
menyebut nama terang.
c. Daftar isi
Daftar isi adalah halaman yang memberikan
informasi tentang bab, sub bab, sub-sub bab dan bagian-bagian penting lain yang
disertai dengan letak halamannya.
Pendahuluan merupakan bab pertama I
yang mengantarkan pembaca untuk mengetahui ikhwal
topik penelitian, alasan, dan pentingnya suatu karya ilmiah. Bab pendahuluan
biasanya memuat latar belakang yang dengan singkat mengulas alasan mengapa
penelitian dilakukan, tujuan, dan hipotesis jika ada. Memberikan alasan yang
kuat, termasuk kasus yang dipilih dan alasan memilih alasan tersebut, perumusan
dan pendekatan masalah, metode yang akan digunakan dan manfaat hasil
penelitian.
Bab pendahuluan seyogianya membimbing pembaca secara halus, tetap melalui
pemikiran logis yang berakhir dengan pernyataan mengenai apa yang diteliti dan
apa yang diharapkan dari padanya. berikan kesan bahwa apa yang anda teliti
benar-benar bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan pembangunan. Bagian tujuan
penelitian mengakhiri bab pendahuluan yang berisi pernyataan singkat mengenai
tujuan penelitian. Dalam menuliskan tujuan, gunakan kata kerja yang hasilnya
dapat diukur dan dilihat, seperti menjajaki, menguraikan, menerangkan, menguji,
membuktikan, atau menerapkan suatu gejala, konsep, atau dugaan (Widya dkk,
2004: 6-7).
1) Latar belakang
Bagian ini menerangkan keternalaran (kerasionalan)
mengapa topik yang dinyatakan pada judul karya tulis ilmiah itu diteliti. Untuk menerangkan
keternalaran tersebut perlu dijelaskan dulu pengertian topik yang dipilih. Baru
kemudian diterangkan argumen yang malatarbelakangi pemilihan topik itu dari
sisi substansi dalam keseluruhan sistem substansi yang melingkupi topik itu.
Dalam hal ini dapat dikemukakan misalnya adanya kesenjangan antara harapan dan
kenyataan, antara teori dan praktek dari konsep dalam topik.Setelah itu
diterangkan keternalaran pemilihan topik dari paradigma penelitian sejenis.
Untuk itu perlu dilakukan kajian pustaka yang memuat hasil-hasil penelitian
tentang topik atau yang berkaitan dengan topik yang dipilih. Dengan melihat
hasil yang diperoleh dalam penelitian sebelumnya dapat ditunjukkan bahwa topik
yang dipilih masih layak untuk diteliti.
2) Identifikasi masalah
Sebelum masalah dirumuskan perlu diidentifikasi dengan
baik. Dengan identifikasi masalah, memungkinkan perumusan masalah yang
operasional menjadi lebih mudah. Masalah yang operasional memiliki ciri, antara
lain: (a) masalahnya dapat dipecahkan, (b) menggambarkan variabel penelitian
yang jelas, (c) bentuk dan jenis data yang diperlukan dapat dipastikan secara
akurat, (d) teknik pengumpulan data dapat ditentikan secara tepat, (e) teknik
analisis data dapat diterapkan secara tepat.
3) Perumusan masalah.
Rumusan masalah adalah rumusan persoalan yang perlu
dipecahkan atau dipertanyakan yang perlu dijawab dengan penelitian. Perumusan
itu sebaiknya disusun dalam bentuk kalimat tanya, atau sekurang-kurangnya
mengandung kata-kata yang menyatakan persoalan atau pertanyaan. Yakni apa,
siapa, berapa, seberapa, sejauh mana. Bagaimana (bisa tentang cara atau wujud
keadaan) dimana, kemana, dari mana, mengapa dan sebagainya.
4) Tujuan penulisan
Tujuan penelitian mengungkapkan apa yang hendak dicapai
dengan penelitian. Tujuan dirumuskan sejajar dengan rumusan masalah. Misalnya:
(a) apakah ada pengaruh X terhadap Y, maka tujuannya ialah menentukan ada
tidaknya pengaruh X terhadap Y, (c) apakah ada antara hubungan antara X dan Y,
maka tujuannya ialah menentukan ada tidaknya hubungan antar X dan Y, (d)
bagaimanakan persepsi peneliti terhadap pelayanan akademik, maka tujuannya
ialah mendeskripsikan persepsi..dst.
e. Bab Isi / Pembahasan
Pembahasan merupakan bagian inti makalah, yang disusun
berdasarkan urutan rumusan masalah di atas. Materi pembahasan bisa bersumber
dari data penilitian, merujuk pendapat pakar tertentu, ataupun meurut
perkembangan logika kita. Panjang pendek makalah bergantung kepada seberapa
jauh kedalaman pembahasannya.Isi/pembahasan dapat dipecah menjadi beberapa bab
tergantung kebutuhan. Dalam hasil disampaian data yang
diperoleh dalam penelitian. Dengan demikian hasil harus disajikan secara
objektif dan sesuai dengan data yang diperoleh (tabel atau gambar).Dalam bagian
ini diuraikan apa saja hasil penelitian yang mencakup semua aspek yang terkait
dengan penelitian. Analisa dan pembahasan membahas tentang keterkaitan antar
faktor-faktor dari data yang diperoleh dari masalah yang diajukan kemudian
menyelesaikan masalah tersebut dengan metode yang diajukan dan menganalisa
proses dan hasil penyelesaian masalah.Bagian isi/pembahasan data merupakan
bagian yang paling penting dalam penulisan karya ilmiah karena dalam bagian ini
dilakukan kegiatan analisis data, sintetis pembahasan, interpretasi penulis,
pemecahan masalah, dan temuan pendapat baru yang diformulakan (bila ada).
f. Penutup
Bagian menguraikan keberhasilan metode dikaitkan dengan
hasi kerja, dan dampak produk. Penutup merupakan bagian terakhir dari isi pokok
laporan penelitian. sesuai dengan isinya, bagian ini dapat dibagi menjadi dua
sub-bab yaitu simpulan dan saran.
1) Simpulan
Simpulan merupakan bagian yang berisi jawaban masalah
dalam sebuah penelitian. Simpulan harus sejalan dengan masalah, tujuan, dan
uraian tentang hasil penelitian dan pembahasannya. masalah yang dikemukakan
dibagian pendahuluan semuanya harus terjawab dan dengan jawaban itu semua
tujuan dapat tercapai. Uraian dalam simpulan harus menjawab masalah yang
dikemukakan dalam bagian pendahuluan dan memenuhi semua tujuan penelitian.
2) Saran
Saran merupakan bagian yang berisi temuan jalan keluar
dari suatu permasalahan. Saran dikemukakan dengan mengaitkan temuan dalam
simpulan dan jika memungkinkan jalan keluarnya juga disampaikan. saran dapat
bersifat praktis atau teoritis. Selain itu, perlu juga
dikemukakan masalah-masalah baru yang ditemukan dalan penelitian yang
memerlukan penelitian lanjutan.
Daftar pustaka
Daftar pustaka adalah daftar buku atau referensi
yang dijadikan rujukan dalam menulis makalah. Adapun urutan/pola daftar pustaka
adalah : nama penulis, tahun terbitnya buku yang dirujuk, judul buku yang
dirujuk, kota buku itu diterbitkan, dan nama penerbit yang menerbitkan buku itu
BAB V. EJAAN YANG
DISEMPURNAKAN
Salah satu
yang harus diperhatikan dalam menulis karya ilmiah adalah penggunaan EYD (Ejaan
yang Disempurnakan). Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun
1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan
Soewandi.
Pada 23 Mei 1972, sebuah
pernyataan bersama telah ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia pada
masa itu, Tun Hussien Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk
melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara
tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan.
Pada tanggal 16 Agustus
1972, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972, berlakulah sistem
ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) bagi bahasa Melayu dan
bahasa Indonesia. Di Malaysia ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi
Bersama (ERB).
Selanjutnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan
pemakaian berjudul "Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan".
Pada tanggal 12 Oktober
1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih
luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat
putusannya No. 0196/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah".
Perbedaan-perbedaan antara EYD dan ejaan sebelumnya adalah:
• 'tj' menjadi 'c' : tjutji → cuci
• 'dj' menjadi 'j' : djarak → jarak
• 'oe' menjadi 'u' : oemoem -> umum
• 'j' menjadi 'y' : sajang → sayang
• 'nj' menjadi 'ny' : njamuk → nyamuk
• 'sj' menjadi 'sy' : sjarat → syarat
• 'ch' menjadi 'kh' : achir → akhir
• awalan 'di-' dan kata depan 'di' dibedakan penulisannya. Kata depan 'di' pada
contoh "di rumah", "di sawah", penulisannya dipisahkan
dengan spasi, sementara 'di-' pada dibeli, dimakan ditulis serangkai dengan
kata yang mengikutinya.
EYD mencakup penggunaan dalam 13 hal, yaitu penggunaan huruf besar (kapital),
tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda hubung, tanda titik koma, tanda
tanya, tanda petik, tanda titik dua, tanda kurung, tanda elipsis, dan tanda
garis miring dan penulisan lambing bilangan
A. Penggunaan
Huruf Kapital
1.
Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai unsur pertama kata pada awal
kalimat.
Misalnya:
Dia mengantuk. Apa maksudnya? Kita harus beker keras. Pekerjaan
itu belum selesai.
2.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
Adik
bertanya, “Kapan kita pulang?”
Bapak
menasihatkan, “Berhati-hatilah, Nak!”
“Kemarin
engkau terlambat,” katanya.
“Besok
pagi,” kata ibu, “dia akan berangkat”.
3.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan
dengan nama Tuhan dan Kitab Suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih,
Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen.
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya
Bimbinglah
hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan,
dan
keagamaan
yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus
Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang
diikuti
nama
orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertetu, nama instansi,
atau nama tempat.
Misalnya:
Dia
baru saja diangkat menjadi sultan.
Tahun
ini dia pergi naik haji.
5.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang
diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu,
nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Menteri
Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Udara Husein
Sastranegara, Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Gubernur
Irian Jaya.
Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak
diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Siapakah
gubernur yang baru dilantik itu? Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad
dilantik menjadi mayor jenderal.
6.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
Amir Hamzah, Dewi Sartika, Wage Rudolf
Supratman, Halim Perdanakusumah.
Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai
nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
Mesin
diesel, 10 volt, 5 ampere
7.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan
bahasa.
Misalnya:
Bangsa
Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris Huruf kapital tidak
dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai
sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
Mengindonesiakan
kata asing, Keinggris-inggrisan
8.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari
raya,, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
tahun
Hijriah, tarikh Masehi, bulan Agustus, bulan Maulid,
hari Jumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari Natal,
Perang Candu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak
dipakai sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno
dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya. Perlombaan
senjata membawa resiko pecahnya perang dunia.
9.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan,
Cirebon, Danau Toba, Dataran Tinggi Dieng,
Gunung emeru, Jalan Diponegoro,
Jazirah Arab, Kali Brantas, Lembah Baliem,
Ngarai Sianok, Pegunungan Jayawijaya, Selat Lombok,
Tanjung Harapan, Teluk Benggala, Terusan Suez.
Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi
unsur nama diri.
Misalnya:
berlayar
ke teluk, mandi di kali, menyeberabangi selat, pergi ke
arah tenggara
Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan
sebagai nama jenis.
Misalnya:
garam
inggris, gula jawa, kacang bogor, pisang ambon
10.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga
pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
Republik Indonesia; Majelis Permusyawaratan Rakyat;
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Badan Kesejahteraan
Ibu dan Anak; Keputusan Presiden Republik Indonesia,
Nomor 57, Tahun 1972.
Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama negara,
lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
Menjadi
sebuah republik, beberapa badan hukum, kerja sama antara pemerintah
dan rakyat, menurut undang-undang yang berlaku.
11.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna
yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta
dokumen resmi.
Misalnya:
Perserikatan
Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang
Dasar Repulik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
12.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur
kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar dan judul
karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak
terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya
telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah
majalah Bahasa dan Sastra.
Dia
adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia
menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.
13.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar,
pangkat, dan sapaan.
Misalnya:
|
Dr.
doctor |
M.A.
master of arts |
S.E.
sarjana ekonomi |
S.H.
sarjana hukum |
S.S.
sarjana sastra |
|
Prof.
professor |
Tn.
Tuan |
Ny.
Nyonya |
Sdr.
saudara |
|
14.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama penunjuk hubungan kekerabatan
seperti
bapak,
ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam
penyapaan dan
pengacuan.
Misalnya:
|
“Kapan
Bapak Berangkat?” tanya Harto. Adik bertanya, “Itu apa, Bu?” Surat Saudara sudah saya terima. |
“Silakan
duduk, Dik!” kata Ucok. Besok
Paman akan datang. Mereka
pergi ke rumah Pak Camat. Para
ibu mengunjungi Ibu Hasan. |
Huruf
capital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kkerabatan
yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya:
Kita
semua harus menghormati bapak dan ibu kita. Semua kakak
dan adik saya sudah berkeluarga.
15.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
Sudahkah
Anda tahu? Surat Anda telah kami terima.
B. Huruf Miring
1.
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah dan
surat
kabar
yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
majalah
Bahasa dan Sastra, buku Negarakertagama karangan Prapanca, surat
kabar
Suara Rakyat.
2.
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf,
bagian
kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
Huruf
pertama kata abad adalah a.
Dia
buka menipu, tetapi ditipu.
Bab
ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
Buatlah
kalimat dengan berlepas tangan.
3.
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan
asing,
kecuali
yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Nama
ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostama.
Politik
devide et impera pernah merajalela di negeri ini.
Weltanschauung
antara lain diterjemahkan menjadi ‘pandangan dunia’
Tetapi:
Negara
itu telah mengalami empat kali kudeta.
C.. Penulisan Kata
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Ibu percaya bahwa engkau tahu. Kantor pajak penuh sesak. Buku
itu sangat tebal.
B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan
kata dasarnya.
Misalnya:
bergetar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan.
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran
ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebar luaskan.
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan
dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulus serangkai. (Lihat juga
keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
menggarisbawahi, menyebarluaskan, dilipatgandakan,
penghancurleburan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam
kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta, audiogram, awahama,
bikarbonat, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, dekameter, demoralisasi,
dwiwarna, ekawarna, ekstrakurikuler, elektroteknik, infrastruktur,
inkonvensional, introspeksi, kolonialisme, kosponsor, mahasiswa, mancanegara,
multilateral, narapidana, nonkolaborasi, Pancasila, panteisme, paripurna,
poligami, pramuniaga, prasangka, purnawirawan, reinkarnasi, saptakrida,
semiprofessional, subseksi, swadaya, telepon, transmigrasi, tritunggal,
ultramodern
catatan:
1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya
adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu harus dituliskan tanda hubung
(-).
Misalnya:
non-Indonesia, pan-Afrikanisme
2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti kata esa dan
kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita. Marilah kita
beersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
C. Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda
hubung.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati,
undang-undang, biri-biri, kupukupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik
hura-hura, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur,
centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan,
dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar,
hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra
D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim disebuta kata majemuk, termasuk
istilah khusus, unsurunsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata
pelajaran, meja tulis, model linier, orang tua, persegi panjang, rumah sakit
umum, simpang empat.
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin
menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk
menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
Alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung
tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda.
3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya:
Adakalanya, akhirulkalam, Alhamdulillah, astaghfirullah,
bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra,
daripada, darmabakti, darmawisata, dukacita, halalbihalal, hulubalang,
kacamata, kasatmata, kepada, karatabaasa, kilometer, manakala, manasuka,
mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna,
radioaktif, saptamarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga,
sekalipun, silaturrahmin, sukacita, sukarela, sukaria,
syahbandar, titimangsa, wasalam
E. Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya; -ku-, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kaumabil. Bukuku, bukumu, dan bukunya
tersimpan di perpustakaan.
F. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya, kecuali di dalam
gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata
seperti kepada dan daripada.
(Lihat juga Bab III, Pasal D, Ayat 3.)
Misalnya:
|
Kain itu terletak di dalam
lemari. Bermalam sajalah di sini. Di mana Siti sekarang? Mereka ada di rumah. Ia ikut terjun di tengah kancah
perjuangan. |
Kita perlu berpikir sepuluh
tahun ke depan. Mari kita berangkat ke pasar. Saya pergi ke sana-sini
mencarinya.Ia datang dari Surabaya kemarin. Ke mana saja ia selama ini? |
Catatan:
|
Kata-kata yang dicetak miring
di bawah ini ditulis serangkai karena bukan merupakan kata depan Si Amin lebih tua daripada
si Ahmad. Kami percaya sepenuhnya kepadanya. Kesampingkan
saja persoalan yang tidak penting itu. Ia masuk, lalu keluar
lagi. |
Surat perintah itu dikeluarkan
di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966. Bawa kemari gambar itu. Kemarikan buku
itu. Semua orang terkemuka di desa
hadir dalam kenduri itu. |
G. Kata Si dan Sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.
H. Partikel
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata
yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik. Apakah yang tersirat dalam dalam
surat itu? Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia. Siapakah gerangan dia? Apatah
gunanya bersedih hati?
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke
rumahku.
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.
Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun,
ataupun,
bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun,
sekalipun,
sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
Baik mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi.
Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan
pegangan.
Walaupun miskin, ia selalu gembira.
3. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis
terpisah dari bagian kalimat
yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Harga kain itu Rp 2.000,00 per helai
E. Angka
dan Lambang
1.
Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan
lazim
digunakan
angka Arab atau angka Romawi.
Angka
Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka
Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M
(1000),
V (5.000), M (1.000.000)
2.
Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii)
satuan
waktu,
(iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Misalnya:
0,5
sentimeter, 1 jam 20 menit, 5 kilogram, pukul 15.00, 4 meter persegi, tahun
1928, 10 liter, 17 Agustus 1945, Rp5.000,00, 100 yen=Y100, 10 persen, 2.000
rupiah, 27 orang
3.
Angka lazim dipakai untuk melambangka nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar
pada
alamat.
Misalnya:
Jalan
Tanah Abang I No. 15; Hotel Indonesia, Kamar 169
4.
Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab
X, Pasal 5, halaman 252; Surah Yasin: 9
5.
Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a.
Bilangan utuh
Misalnya:
Dua
belas 12, Dua puluh dua 22, Dua ratus dua puluh dua 222
b.
Bilangan pecahan
Misalnya:
Setengah
½, Tiga perempat ¾, Seperenam belas 1/16, Tiga dua pertiga 3 2/3, Seperseratus
1/100
Satu
persen 1 %, Satu permil 1‰, Satu dua persepuluh 1,2
6.
Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:
Paku
Buwono X; pada awal abad XX; dalamkehidupan abad ke-20 ini;
lihan Bab II; Pasal 5; dalam bab ke-2 buku itu; di daerah
tingkat II itu; di tingkat kedua gedung itu; di tingkat ke-2 itu;
kantor di tingkat II itu.
7.
Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti cara yang
berikut.
(Lihat
juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
tahun
’50-an atau tahun lima puluhan, uang 5000-an atau uang lima ribuan, lima uang
1.000-an atau lima uang seribuan
8.
Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan
huruf,
kecuali
jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam
perincian
dan
pemaparan.
Misalnya:
Amir
menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
Di
antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang
tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko. Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan
umum terdiri atas 50 bus, 100
helicak,
100 bemo.
9.
Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan
kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau
dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Lima
belas orang tewas dalam kecelakaan itu. Pak Darmo mengundang 250 orang
tamu
Bukan:
15 orang tews dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
10.
Angka yang menunjukkan bilangan utuh secara besar dapat dieja
Misalnya:
Perusahaan
itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk
Indonesia brjumlah lebi dari 200 juta orang.
11.
Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks,
kecuali didalam
dokumen
resmi seperti akta dan kuitansi.
Misalnya:
Kantor
kami mempunyai dua puluh orang pegawai. Di lemari itu tersimpan 805 buku
dan majalah.
Bukan:
Kantor
kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pgawai. Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus
lima) buku dan majalah.
12.
Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya:
Saya
lamirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (Sembilan ratus Sembilan puluh
Sembilan dan tujh puluh lima perseratus rupiah).
Bukan:
Saya
lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan
dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.
F.
PENULISAN
UNSUR SERAPAN
Dalam
perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain,
baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab,
Portugis, Belanda, atau Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsure
pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama,
unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia,
seperti reshuffle, shuttle cock, l’axplanation de l’homme.
Unsur-unsur
yang dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih
mengikuti cara asing.
Kedua,
unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah
bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah
seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk
asalnya.
Kaidah
ejaan yang berlaku bagi unsure serapan itu sebagai berikut.
aa (Belanda) menjadi a : paal=pal, baal=bal,
oktaaf=oktaf
ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e : aerob aerob,
aerodimanics aerodonamika
ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e : haemoglobin
hemoglobin, haematite hematit
ai tetap ai: trailer trailer, caisson kaison,
au tetap au: audiogram audiogram, autrotoph autrotof,
tautomer tautomer
hydraulic
hidraulik, caustic kaustik
c di muka a, u, o dan konsonan mejadi k : calomel kalomel,
construction konstruksi, cubic kubik
coup kup, classification klasifikasi, crystal
Kristal, c di muka e, i, oe, dan y menjadi s, central
sentral, cent sen, cybernetics sibernetika, circulation
sirkulasi, cylinder silinder, ceolom selom
cc di muka o, u dan konsonan menjadi k : accomodation
akomodasi, acculturation akulturasi
acclimatization
aklimatisasi, accumulation akumulasi, acclamation aklamasi
cc di muka e dan i menjadi ks:accent aksen,
accessory aksesori, vaccine vaksin,
cch dan ch di muka a, o dan konsonan menjadi k : saccharin
sakarin, charisma karisma, cholera kolera, chromosome
kromosom, technique teknik
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s: echelon
eselon, machine mesin,
ch yang lafalnya c menjadi c: check cek, China Cina
ç (Sanskerta) menjadi s: çabda sabda, çastra sastra,
e tetap e: effect efek, description deskripsi,
synthesis sintesis
ea tetap ea: idealist idealis, habeas baheas
ee (Belanda) menjadi e: stratosfeer stratosfer, systeem
system,
ei tetap ei: eicosane eikosan, eidetic eidetic,
einsteinium einsteinium
eo tetap eo: stereo stereo, , geometry geometri,
zeolite zeolit
eu tetap eu :neutron neutron, eugenol eugenol,
europium europium
f tetap f :fanatic fanatic,
factor factor, fossil fosil,
gh menjadi g: sorghum sorgum, gue menjadi ge,
igue ige, gigue gige
i pada awal suku kata di muka vokal tetap i: iambus iambus,
ion ion, iota iota
ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i: politiek
politik, riem rim,
ie tetap ie jika lafalnya bukan i: variety varietas,
patient pasien, afficient efisien
kh (Arab) tetap kh: khusus khusus, akhir akhir
ng tetap ng: contingent kontingen, congres
kongres, linguistics linguistik
oe (oi Yunani) menjadi e: oestrogen estrogen, oenology
enology, foetus fetus
oo (Belanda) menjadi o: komfoor kompor, provoost
provos,
oo (Inggris) menjadi u: cartoon kartun, proof
pruf, pool pul,
oo (vokal ganda) tetap oo: zoology zoology, coordination
koordinasi,
ou menjadi u jika lafalnya u: gouverneur gubernur,
coupon kupon, contour kontur
ph menjadi f: phase fase, physiology fisiologi,
spectograph spektograf
ps tetap ps: pseudo pseudo, psychiatry psikiatri,
psychic psikis, psychosomatic psikosomatik
pt tetap pt: pterosaur pterosaur, pteridology pteridology,
ptyalin ptyalin
q menjadi k: aquarium akuarium, frequency
frekuensi, equator ekator
rh menjadi r: rhapsody rapsodi, rhombus rombus,
rhythm ritme, rhetoric retorika
sc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi sk: scandium scandium,
scoptopia skoptopia, scutella skutela
sclerosis sclerosis,scriptie skripsi
sc di muka e, i, dan y menjadi s: scenography senografi,
scintillation sintilasi, scyphistoma sifistoma
sch di muka vokal menjadi sk: schema skema, schizophrenia
skizofrenia, scholasticism skolastisisme
t di muka i menjadi s jika lafalnya s: ratio
rasio, actie aksi, patient pasien
th menjadi t: theocracy teokrasi, orthography ortografi,
thiopental thiopental, thrombosis trombosis
methode
(Belanda) metode
u tetap u: unit unit, nucleolus nucleolus,
structure struktur, institute institute
ua tetap ua: dualism dualism, aquarium akuarium
ue tetap ue: suede sued, duet duet,
ui tetap ui: equinox ekuinoks, conduite
konduite
uo tetap uo: fluorescein fluorescein, quorum kuorum,
quota kuota
uu menjadi u: prematuur premature, vacuum vakum
v tetap v: vitamin vitamin, television televise,
cavalery kavaleri
x pada awal kata tetap x: xanthate xantat, xenon
xenon, xylophone xilofon
xc di muka e dan i menjadi ks: exception eksepsi,
, excess ekses, excision eksisi, excitation
eksitasi
xc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk: excavation
ekskavasi, excommunication ekskomunikasi
excursive
ekskursif, exclusive eksklusif.
y tetap y jika lafalnya y: yakitori yakitori, yangonin
yangonin, yen yen, yuan yuan
y manjadi y jika lafalnya i: yttrium itrium, dynamo
dynamo, propyl propil, psyschology psikologi
z tetap z: zenith zenith, zirconium zirconium,
zodiac zodiac, zygote zigot
Konsonan
ganda menjadi tunggal, kecuali kalau dapat membingungkan.
Misalnya:
gabbro
gabbro, commission komisi, accu aki, ferrum
ferum, effect efek, salfeggio salfegio,
Tetapi:
mass
massa
Catatan:
1.
Unsur pungutan yang sudah lazim dieja sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia
tidak perlu lagi diubah.
Misalnya:
Kabar,
sirsak, iklan, erlu, bengkel, hadir
2.
Sekalipun dalam ejaan yang dismpurnakan huruf q dan x diterima sebagai bagian
abjad bahasa Indonesia, unsur yang mengandung kedua huruf itu diindonesiakan
menurut kaidah yang terurai di atas. Kedua huruf itu dipergunakan dalam
penggunaan tertentu saja, seperti dalam pembedaan nama dan istilah khusus.
Di
samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut di atas, berikut ini didaftarkan
juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya dalam bahasa Indonesia.
Akhiran
itu diserap sebagai bagian kata yang utuh. Kata seperti standarisasi,
efektif, dan implementasi diserap secara utuh di samping kata standar,
efek, dan implemen.
-aat
(Belanda) menjadi –at: advocaat advokat,
-age
menjadi –ase:percentage persentase, etalage
etalase
-al,
-eel (Belanda), -aal (Belanda) menjadi –al: structural,
structureel structural, formal, formeel formal
normal,
normaal normal
-ant
menjadi –an : accountant akuntan, informant
informan
-archy,
-archie (Belanda) menjadi –arki: anarchy, anarchie anarki,
oligarchy, oligarchie oligarki
-ary,
-air (Belanda) menjadi –er ; complementary, komplementer,
complementair; primary, primair, primer;secondary,
secondair sekunder
-(a)tion,
-(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -as: action, actie aksi;
publication, publicatie publikasi
-eel
(Belanda) menjadi –el: ideëel ideal; materieel
materiel; moreel morel
-ein
tetap –ein: casein kasein, protein protein
-ic,
-ics, ique, -iek, -ica (Belanda) menjadi -ik, -ika: logic,
logica logika; phonetics, phonetiek fonetik
physics,
physica fisika; dialectics, dialektica dialektika;
technique, techniek teknik
-ic,
-isch (adjektiva Belanda) menjadi –ik: electronic, elektronisch
elektronik; mechanic, mechanisch mekanik; ballistic,
ballistisch balistik
-ical,
isch (Belanda) menjadi –is: economical, economisch ekonomis;
practical, practisch praktis
logical,
logisch logis
-ile,
-iel menjadi –il: percentile, percentiel persenril;
mobile, mobiel mobil
-ism,
isme (Belanda) menjadi –isme: modernism, modernisme modernism;
communism, communisme komunisme
-ist
menjadi –is: publicist publisis, egoist egois
-ive,
-ief (Belanda) menjadi –if: descriptive, descriptief deskriptif;
demonstrative, demonstratief demonstratif
-logue
menjadi –log: catalogue catalog, dialogue dialog
-logy,
-logie (Belanda) menjadi –logi: technology, technologie teknologi;
physiology, physiologie fisiologi; analogy, analogie
analogi
-loog
(Belanda) menjadi –log: analoog analog, epiloog
epilog
-oid,
-oide (Belanda) menjadi –oid: hominoid, hominoide hominoid;
anthropoid, anthropoide anthropoid
-oir(e)
menjadi –oar: trotoir trotoar, repertoire repertoar
-or,
-eur (Belanda) menjadi -ur, -ir: director, directuer direktur;
inspector, inspectuer inspektur, amateur amatir;
formateur formatur
-or tetap –or: dictator dictator, corrector korektor
-ty,
-teit (Belanda) menjadi –tas: university, universiteit universitas,
quality, kwaliteit kualitas
-ure,
-uur (Belanda) menjadi –ur: structure, struktuur struktur,
premature, prematuur prematur
G.
PEMAKAIAN
TANDA BACA
A.
Tanda Titik (.)
1.
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
Ayahku
tinggal di Solo. Biarlah mereka duduk di sana. Dia menanyakan siapa yang akan
datang.
Hari
ini tanggal 6 April 1973. Marilah kita mengheningkan cipta.
Sudilah
kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.
2.
Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar,
atau daftar.
Misalnya:
a.
III. Departemen Dalam Negeri
A.
Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
B.
Direktorat Jenderal Agraria
1. …
b.
1. Patokan Umum
1.1
Isi Karangan
1.2
Ilustrasi
1.2.1
Gambar Tangan
1.2.2
Tabel
1.2.3
Grafik
3.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan waktu.
Misalnya:
Pukul
1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
4.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan
jangka waktu.
Misalnya:
1.35.20
jam (1 jam, 35 menit, 20 detik); 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik); 0.0.30 jam
(30 detik)
5.
Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan
yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.
Misalnya:
Siregar,
Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.
6a.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya:
Desa
itu berpenduduk 24.200 orang. Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.
6b.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang
tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Ia
lahir pada tahun 1956 di Bandung. Lihat halaman 2345 seterusnya. Nomor gironya
5645678.
7.
Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala
karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Misalnya:
Acara
kunjungan Adam Malik, Bentuk dan Kedaulatan (Bab 1 UUD ’45), Salah Asuhan
8.
Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal
suat atau (2) nama dan alamat surat.
Misalnya:
Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik), Jakarta (tanpa titik), 1 April 1985 (tanpa
titik),
Yth.
Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik), Jalan Arif 43 (tanpa titik), Palembang (tanpa
titik), Atau:
Kantor
Penempatan Tenaga (tanpa titik) Jalan Cikini 71 (tanpa titik) Jakarta (tanpa
titik)
B.
Tanda Koma (,)
1.
Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya:
Saya membeli kertas, pena, dan tinta. Surat biasa, surat kilat, maupun surat
khusus memerlukan prangko. Satu, dua, … tiga!
2.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat
setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, atau melainkan.
Misalnya:
Saya
ingin datang, tetapi hari hujan. Didi bukan anak saya, melainkan anak
Pak Kasim.
3a.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat
itu mendahului indukn kalimatnya.
Misalnya:
Kalau
hari hujan, saya tida datang. Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
3b.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk
kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
Saya
tidak akan datang kalau hari hujan. Dia lupa akan janjinya karena sibuk. Dia
tahu bahwa soal itu penting.
3.
Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang
terdapat
pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun
begitu, akan tetapi.
Misalnya:
…. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. …. Jadi, soalnya tidak semudah itu.
4.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari
kata lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:
O, begitu? Wah, bukan main! Hati-hati, ya, nanti jatuh.
5.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam
kalimat. (Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab V, Pasal L dan M.)
Misalnya:
Kata
ibu “Saya gembira sekali.” “Saya
gembira sekali,” kata ibu, “karena kamu lulus.”
6.
Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat,
(iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang
ditulis berurutan.
Misalnya:
Surat-surat
ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia,
Jalan raya Salemba 6, Jakarta.
Sdr.
Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor.
Kuala
Lumpur, Malaysia.
7.
Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar
pustaka.
Misalnya:
Alisjahbana,
Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2.
Djakarta: Pustaka Rakjat.
8.
Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misalnya:
W.J.S.
Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP
Indonesia, 1967), hlm. 4.
9.
Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya
untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
B.
Ratulangi, S.E. ; Ny. Khadijah, M.A.
10.
Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan
dengan angka.
Misalnya:
12,5
m ; Rp12,50
11.
Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
(Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab V, Pasal F.)
Misalnya:
Guru
saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
Di
daerah kami, misalnya, masih banyak orang aki-laki yang makan sirih.
Semua
siswa, baik yang laki-laki maupun perempuan, mengikuti latihan paduan suara.
Bandingkan
dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:
Semua
siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
12.Tanda
koma dapat dipakai―untuk menghindari salah baca―di belakang keterangan yang
terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Dalam
upaya pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang sungguh-sungguh.
Atas
bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Bandingkan
dengan:
Kita
memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam upaya pembinaan dan pengembanagan
bahasa.
Karyadi
mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.
13.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langung itu berakhir dengan
tanda tanya atau seru.
Misalnya:
“Di
mana Saudara tinggal?” tanya Karim. “Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.
C.
Tanda Titik Koma (;)
1.
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang
sejenis dan setara.
Misalnya:
Malam
akan larut; pekerjaan belum selesai juga
2.
Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Ayah
mengurus tanamannya di kebun itu; ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghafal
nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran “Pilihan
Pendengar”.
D.
Tanda Dua Titik (:)
1a.
Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti
rangkaian atau pemerian.
Misalnya:
Kita
sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Hanya
ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.
1b.
Tanda titk dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap
yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya:
Kita
memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Fakultas
itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.
3.
Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
a.
Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris
: S. Handayani
Bendahara
: B. Hartawan
b.
Tempat Sidang : Ruang 104
Pengantar
Acara : Bambang S.
Hari
: Senin
Waktu
: 09.30
4.
Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan
pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu
: (meletakkan beberapa kopor) “Bawa kopor ini, Mir!”
Amir
: “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)
Ibu
: “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!” (duduk di kursi besar)
5. Tanda
titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara
bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu
karangan , serta (iv) di antara nama kota dan penerbit buku acuan dalam
karangan.
Misalnya:
Tempo,
I (34), 1971: 7
Surah
Yasin: 9
Karangan
Ali Hakim, Pedidikan Seumur Hidup: sebuah Studi, sudah terbit.
Tjokronegoro,
Sutomo, Tjukuplah Saudara Membina Bahasa Persatuan Kita?
Djakarta:
Eresco, 1968.
E.
Tanda Hubung (-)
1.
Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian
baris.
Misalnya:
Di
samping cara-cara lama itu juga cara yang baru suku kata yang berupa satu vocal
tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.
Misalnya:
Beberapa
pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan ….
Walaupun
sakit, mereka tetap tidak mau beranjak ….
Atau
Beberapa
pendapat mengenai masalah
Itu telah disampaikan ….
Walaupun
sakit, mereka tetap tidak
mau
beranjak ….
Bukan:
Beberapa
pendapat mengenai masalah i-
tu telah
disampaikan ….
Walaupun
sakit, mereka tetap tidak ma-
u beranjak ….
2.
Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan
bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Misalnya:
Kini
ada acara baru untuk meng-
ukur
panas.
Kukuran
baru ini memudahkan kita me-
ngukur
kelapa.
Senjata
merupakan alat pertahanan
yang
canggih.
Akhiran
i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal
baris.
3.
Tanda hubung meyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:
Anak-anak,
berulang-ulang, kemerah-merahan
Angka
2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak
dipakai
pada teks karangan.
4.
Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian
tanggal.
Misalnya:
p-a-n-i-t-i-a
8-4-1973
5.
Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata
atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.
Misalnya:
ber-evolusi,
dua puluh lima-ribuan (20 x 5.000), tanggung jawab-dan kesetiakawanan-sosial
Bandingkan
dengan:
Be-revolusi,
dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25.000), tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial
6.
Tanda hubung dipakai untuk merangkai (i) se- dengan kata berikutnya yang
dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan -an,
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan
rangkap.
Misalnya:
se-Indonesia,
se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X; Menteri
Sekretaris Negara.
7.
Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsure bahasa Indonesia dengan unsur bahasa
asing.
Misalnya:
di-smash,
pen-tackle-an
F.
Tanda Pisah (―)
1.
Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di
luar bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan
bangsa itu―saya yakin akan tercapai―diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2.
Tanda pisah menegaskan adanya keterangan oposisi atau keterangan yang lain
sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya:
Rangkaian
temuan ini―evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom―telah
mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
3.
Tanda pisah dipakai di antara dua dilangan atau tanggal dengan arti ‘sampai
dengan’ atau ‘sampai ke’.
Misalnya:
1910―1945
Tanggal
5―10 April 1970
Jakarta―Bandung
Catatan:
Dalam
pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi
sebelum dan sesudahnya.
G.
Tanda Elipsis (…)
1.
Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya:
Kalau
begitu … ya, marilah kita bergerak.
2.
Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam satu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
Sebab-sebab
kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
Catatan:
Jika
bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah
titik; tiga buah titik untuk menandai penghilangan teks dan atu untuk menandai akhir
kalimat.
Misalnya:
Dalam
tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati….
H.
Tanda Tanya (?)
1.
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya:
Kapan
ia berangkat? Saudara tahu, bukan?
2.
Tanda taya dipakai dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan
atau yang kurang dapat membuktikan kebenarannya.
Misalnya:
Ia
dilahirkan pada tahun 1983 (?). Uangnya sebanyak 10 jta rupiah (?) hilang.
I.
Tanda Seru (!)
Tanda
seru dipakai sesuda ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah
yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
Misalnya:
Alangkah
seramnya peristiwa itu! Bersihkan kamar itu sekarang juga! Masakan! Sampai hati
juga ia meninggalkan anak-istrinya. Merdeka!
J.
Tanda Kurung ((…))
1.
Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
Bagian
Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.
2.
Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral
pokok pembicaraan.
Misalnya:
Sajak
Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun
1962.
Keterangan
itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam
negeri.
3.
Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Misalnya:
Kata
cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain (a).
Pejalan
kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.
4.
Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya:
Factor
produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.
K.
Tanda Kurung Siku ([…])
1.
Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau
tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu
menyatakan bahwa kesalahan atau ekurangan itu memang terdapat di naskah asli.
Misalnya:
Sang
Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
2.
Tanda kurung siku menapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda
kurung.
Misalnya:
Persamaan
kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman
35-38] perlu dibentangkan.
L.
Tanda Petik (“…”)
1.
Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan daan naskah
atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
“Saya
belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”
2.
Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam
kalimat.
Misalnya:
Bacalah
“Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat.
Karangan
Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” dimuat
dalam majalah Tempo. Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku
itu.
3.
Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang
mempunyai arti khusus.
Misalnya:
Pekerjaan
itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
Ia
bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.
4.
Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengahkiri petikan langsung.
Misalnya:
Kata
Tono, “Saya juga minta satu.”
5.
Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda
petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada
ujung kalimat atau bagian kalimat.
Misalnya:
Karena
warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.
Bang
Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
Catatan:
Tanda
petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu
ditulis
sama tinggi di sebelah atas baris.
M.
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
1.
Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya
Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?” “Waktu kubuka pintu depan,
kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,”
ujar Pak Hamdan.
2.
Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau
ungkapan asing. (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab V, Pasal J.)
Misalnya:
feed-back
‘balikan’
N.
Tanda Garis Miring (/)
1.
Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat dan nomormpada alamat dan
penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
No.
7/PK/1973
Jalan
Kramat III/10
tahun
anggaran 1985/1986
2.
Tanda gris miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
Misalnya:
dikirimkan
lewat ‘dikirim lewt darat atau
darat/laut
lewat laut’
harganya
Rp25,00/lembar ‘harganya Rp25,00 tiap lembar’
O.
Tanda Penyingkat atau Apostrof
Tanda
penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Misalnya:
Ali
‘kan kusurati. (‘kan = akan) Malam
‘lah tiba. (‘lah = telah) 1 Januari
’88. (’88 = 1988)
MAROJI’
1.
Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. 2000. Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional
2.
http://id.wikipedia.org/wiki/Karya_ilmiah
3.
http://frackasyster.blogspot.com/2013/01/contoh-karya-tulis-ilmiah-tentang.html
4.
Tim
Penyusun FE-UNJ. 2008. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta:
Universitas Negeri Jakarta
5.
http://www.semarakgeografi.com/berita/event-sg2013/lomba-karya-tulis-ilmiah/aturan-penulisan-karya-tulis-ilmiah
Contoh Makalah Bahaya Merokok
Contoh Makalah Bahaya Merokok
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan atas kehadiran Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya kepada kami, sehingga kami sebagai penyusun telah berhasil
menyelesaikan makalah sederhana ini.
Shalawat dan
salam kita hanturkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW beserta
keluarganya, sahabatnya, beserta pengikutnya hingga akhir zaman.
Kami menyusun
makalah ini dengan tema rokok. Makalah ini menjelaskan tentang berbagai macam
bahaya merokok dan pengaruh yang ditimbulkan oleh rokok terlebih dikalangan
pelajar. Makalah ini disusun dengan tujuan memberitahukan kepada para perokok,
khususnya kepada para pelajar, bahwa merokok sangat berbahaya bagi kesehatan.
Kami menyadari
bahwa tiada gading yang tak retak. Makalah yang kami susun ini tak luput dari
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karenanya, kami sebagai penyusun
sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.
Akhir kata,
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
i
Daftar Isi ii
BAB I :
Pendahuluan
A. Latar
Belakang 1
B. Alasan
Seseorang Mulai Merokok 2
C. Ciri – ciri
Seorang Perokok 3
BAB II :
Pembahasan
A. Bahan-bahan
Kimia Yang Terkandung Pada Rokok 4
B. Dampak Rokok
4
C. Upaya
Pencegahan 5
BAB III :
Penutup
A. Kesimpulan 6
B. Penutup 6
BAB
I. PENDAHULUAN
Kebiasaan
merokok di Indonesia sangat memprihatinkan. Setiap saat kita dapat menjumpai
anggota masyarakat dari berbagai usia, termasuk pelajar merokok di
tempat-tempat umum. Padahal, berbagai penelitian dan kajian yang telah
dilakukan menujukkan bahwa rokok sangat membahayakan kesehatan. Bukan hanya
membahayakan para perokok, asap rokok juga sangat berbahaya apabila dihirup
oleh orang-orang yang berada di sekitarnya (perokok pasif). Bahkan sebagian
penelitian menunjukkan bahwa para perokok pasif memiliki resiko kesehatan yang
lebih tinggi daripada para perokok itu sendiri. Penyakit-penyakit mulai dari
menderita batuk hingga kanker paru mengancam para perokok, baik perokok aktif
maupun pasif.
Kami menyadari
bahwa informasi tentang bahaya rokok bagi kesehatan sangat penting untuk
diketahui oleh masyarakat luas, khususnya para pelajar. Hal inilah yang
mendorong kami untuk menyusun makalah tentang rokok ini. Kami berharap, dengan
mengetahui informasi ini para pelajar dapat mengurungkan niatnya untuk
mengkonsumsi rokok, atau bahkan berhenti merokok.
A. LATAR
BELAKANG
Bahan dasar
rokok adalah tembakau. Tembakau terdiri dari berbagai bahan kimia yang dapat
membuat seseorang ketagiahan, walaupun sebenarnya mereka tidak ingain
mencobanya lagi.
Sebenarnya
seorang pelajar belum baik atau boleh merokok di kalangan sekolah, masyrakat
atau kalangan yang lainnya. Karena hal itu dapat berdampak buruk pada
kesehatannya, sekolahnya, dan lain-lain. Biasanya hal ini dilakukan oleh para
pelajar karena kondisi emosi mereka yang tidak stabil membuat mereka melakukan
segala hal untuk melampiaskan emosinya.
Di kota-kota
besar, terutama Jakarta populasi perokok pada usia dini sangatlah tinggi. Hal
ini disebabkan karena kurangnya penyuluhan tentang bahaya rokok dikalangan
sekolah / masyarakat. Atau mungkin jugaa kurangnya kesadaran pada diri mereka
sehingga mereka tidak memperhatikan bahayanya dan juga nanti ke depannya. Oleh
kaarena itu, kami sebagai pelajar akan mensosialisasikan tentang bahaya rokok
serta akibat untuk masa ke depannya lewat makalah ini.
B. ALASAN
SESEORANG MULAI MEROKOK
Alasan pertama
kali merokok dari berbagai hasil penelitian antara lain : coba-coba,
ikut-ikutan, ingin tahu enaknya rokok, sekedar ingin merasakan, kesepian, agar
terlihat gaya, meniru orang tua, iseng, menghilangkan ketegangan, kebiasaan
saja untuk pergaulan, biar tidak dikatakan banci, lambang kede-wasaan, mencari
inspirasi. Alasan lain adalah sebagai penghilang stres, penghilang jenuh,
pencari ilham, gengsi, sukar melepaskan diri, pengaruh lingkungan, iseng, anti
mulut asam, pencuci mulut, kenikmatan.
Khusus bagi
remaja dan anak-anak, suatu studi di Australia tahun 1981 terhadap 5686
anak-anak menunjukkan besarnya pengaruh iklan; anak-anak tersebut diwawancarai
dua kali dengan selang waktu satu tahun dan ditemukan bahwa ke-mungkinan untuk
menjadi perokok pada anak-anak yang menyetujui iklan rokok dua kali lebih besar
daripada mereka yang tidak menyetujui iklan rokok.
Bagi kebanyakan
pelajar, mulai merokok disebabkan oleh dorongan lingkungan. Contohnya saja,
pelajar tersebut merasa tidak enak kepada teman-temannya karena dia tidak
merokok. Sehingga dia pun mulai merokok dan akgirnya menikmati rokok tersebut.
Kebanyakan pelajar juga beranggapan bahwa dengan merokok dirinya merasa sangat
hebat, gaya, dan ditakuti. Padahal, jika dia tidak pandai-pandai menjaga
dirinya, rokok adalah awal dari terjerumusnya seseorang kepada obat-obatan
terlarang.
C. CIRI-CIRI
SEORANG PEROKOK
Dibawah ini,
merupakan beberapa ciri dari seorang perokok
ü Perokok terlihat tenang dengan asiknya
menghisap menghisap rokok
ü Pipi perokok terlihat kempot
ü Kulit jadi hitam
ü Mata merah
ü Kuku membiru
ü Bibir dan gusi menjadi hitam
ü Mudah terserang peyakit batuk
ü Nafasnya bau
ü Nafas seorang perokok tidak kuat dan tidak
panjang
Efek lain dari
rokok juga dapat menimbulkan
1. Gigi menjadi
kuning karena noda dari nikotin
2. Mengganggu
penciuman
3. Mengganggu
pengecapan
4. Infeksi pada
tenggorokan
5. Kanker
paru-paru
6. Borok pada
usus
7. Impotensi
8. Gangguan
kehamilan dan janin
BAB
II. PEMBAHASAN
A. BAHAN-BAHAN
KIMIA YANG TERKANDUNG PADA ROKOK
Ketika
menghisap sebatang rokok, sebenarnya kita telah menghirup banyak sekali zat
yang dapat merusak tubuh kita, diantaranya
Ø Nikotin, menyebabkan kecanduan, merusak
jaringan otak, dan darah mudah menggumpal.
Ø Tar, menyebabkan kerusakan pada sel paru-paru,
meningkatkan produksi lendir atau dahak di paru-paru, dan dapat menyebabkan
kanker paru-paru.
Ø Karbon monoksida, yang dapat mengurangi jumlah
oksigen yang dapat diikat darah,dan menghalangi transportasi oksigen dalam
tubuh.
Ø Zat kersinogen, dapat memicu pertumbuhan sel
kanker dalam tubuh.
Ø Zat iritan, dapat mengakibatkan batuk, kanker
paru-paru, dan iritasi pada paru-paru.
B. DAMPAK ROKOK
Bagi diri
sendiri,
1. Merokok
lebih banyak mendatangkan kerugian dibandingkan keuntungan bagi tubuh
2. Menimbulkan
sugesti kepada diri kita, bahwa jika kita tidak merokok mulut terasa tidak enak
dan asam
3. Rasa ingin
tahu, semangat untuk belajar, dan berbagai hal positif yang ada pada diri kita
hilang ketika kita menjadi seorang perokok
Bagi orang
lain,
1. Ketika kita
sedang merokok, asap rokok kita dapat mengganggu orang lain dan juga
menyebabkan polusi udara
2. Menyebabkan
seseorang yang dekat dengan kita menjadi seorang perokok pasif
3. Jika
membuang puntung rokok sembarangan tanpa mematikan terlebih dahulu sebelumnya,
dapat menyebabkan kebakaran
4. Menyebabkan
meninpisnya lapisan ozon
F. UPAYA
PENCEGAHAN
Beberapa upaya
yang telah dilakukan pemerintah
1. Upaya yang
dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan bu-kan suatu kampanye anti merokok,
tetapi penyuluhan tentang hubungan rokok dengan kesehatan.
2. Sasaran yang
ingin dijangkau adalah sasaran-sasaran ter-batas yaitu : petugas kesehatan,
para pendidik, para murid sekolah, para pemuka, anak dan remaja, para wanita,
terutama ibu hamil
3. Kegiatan
diutamakan pada pencegahan bagi yang belum merokok.
4. Menanamkan
pengertian tentang etika merokok, misalnya :
a) Tidak
merokok di tempat-tempat umum, seperti gedung bioskop, bis kota, gedung-gedung
pertemuan dan sebagainya.
b) Tidak
merokok waktu sedang melaksanakan tugas, mi-salnya dokter waktu memeriksa
pasien, guru waktu mengajardan sebagainya.
c) Tidak
merokok dekat anak-anak/bayi.
Saran kami bagi
anda yang belum pernah merokok, sebaiknya anda jangan mencoba-coba merokok
karena dapat membahayakan hidup kita. Terlebih lagi di zaman yang sudah tidak
sehat ini, kita harus pandai-pandai menjaga kesehatan. Biasakanlah untuk hidup
sehat, karena hidup sehat merupakan awal dari sebuah keberhasilan.
BAB
III. PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kebiasaan
merokok di kalangan remaja amat membahaya-kan baik ditinjau dari segi
pendidikan maupun kesehatan serta sosial ekonomi. Dipandang dari segi
pendidikan sudah jelas bahwa hal ini akan mengganggu pelajarannya, sedangkan
dari segi kesehatan akibat kebiasaan merokok akan menyebabkan berbagai penyakit
(penyakit serangan jantung, gangguan per-nafasan dan sebagainya). Dari segi
ekonomi merupakan pengeluaran anggaran yang tidak perlu atau pemborosan.
Para orang tua
murid dan guru sekolah agar lebih ketat mengambil tindakan yang positif dalam
hal menanggulangi kenakalan remaja termasuk kebiasaan merokok di kalangan
remaja. Para remaja hendaknya secara aktif mengikuti ceramah tentang bahaya
merokok.
B. PENUTUP
Demikianlah
makalah yang sederhana ini. Kami berharap, makalah ini dapat bermanfaat bagi
para pembacanya sehingga dapat menghindari rokok dan menjalani hidup yang lebih
sehat serta tidak membahayakan kesehatan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Contoh 2:
KARYA ILMIAH
KORELASI FACEBOOK DENGAN KEHIDUPAN SOSIAL REMAJA SEIRING PERKEMBANGAN
TEKHNOLOGI
DI SUSUN OLEH:
1. Hafis Rahmanda F. (09)
2. M.Aris Sirojul U. (11)
3. Nailul Izzah (16)
4. Siti Nur Jannah (29)
SMA NEGERI 1 TUMPANG
Jalan Kamboja 10 Malangsuko Tumpang
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. Berkat limpahan karunia-Nya,
kami dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini tepat waktu.Kami tetap
menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini masih jauh dari yang diharapkan. Hal
ini disebabkan oleh pengetahuan dan pengalaman kami yang cukup dangkal dan
terbatas. Kendala ini dapat diatasi karena tidak sedikit perhatian dan bantuan
yang telah diberikan oleh berbagai pihak yang telah membantu penyelesaiannya.
Untuk itu kami merasa mempunyai hutang budi yang tidak terhingga, dan dalam
kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya dan dari
lubuk hati yang paling dalam kepada :
1. Ibu Maisyaroh Aisiyah, selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang
telah membimbing kami dalam penulisan karya ilmiah ;
2. Bu Andri,S.pd, selaku petugas perpustakaan yang telah membantu kami dalam
menemukan buku referensi untuk penulisan karya ilmiah ;
3. Orangtua, yang telah memberikan dukungan dan perhatian kepada kami ;
4. Teman-teman, yang telah membantu kami dalam menjawab angket yang diperlukan
untuk penulisan karya ilmiah ;
5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, telah banyak
membantu kami dalam penulisan karya tulis.
Kami berharap karya tulis ini dapat menambah wawasan masyarakat, khususnya para
pelajar, tentang arti facebook terhadap kehidupan sosial remaja.
Terakhir, kami tetap terbuka untuk menerima segala bentuk kritikan dan
perbaikan. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan ridho, taufiq, dan karuniaNya
kepada kita semua.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……………………………….……………………...………
KATA PENGANTAR ……………………………….……………..…….…………
DAFTAR ISI………………………………………….……………….…………….
HALAMAN PERSEMBAHAN…………………….……..…………………...……
HALAMAN PERSETUJUAN…………………….…………………………...……
ABSTRAK…………………………………..…….………………………...………
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah……………………………………………………..
2. Rumusan Masalah……………………….…..………………………………
3. Ruang LingkupPembahasan……………...………………………………….
4. Sistematika Pembahasan……...……..………………………………………
BAB II KAJIAN TEORI
1. Sejarah facebook………………...……..……………………………………
2. Pengaruh facebook tehadap kehidupan remaja………………………………………………………………………..
3. Dampak facebook…...…………………………………………………….....
4. Faktor mengapa facebook sering di akses remaja…………………………..
5. cara paling tepat untuk menggunakan facebook secara konsekuen..……….
BAB III METODE PENGEMBANGAN
1. Prosedur Pengembangan……………………………………....…………….
2. Jenis Data…………………………………………………...……………….
3. Instrumen pengumpulan data……………………………...…….…………..
4. Analisis Data………………………………………………….……………..
BAB IV PENUTUP
1. Kesimpulan…………………………………………………..………………
2. Saran…………………………………………………………………………
Daftar Pustaka……………………………………………………………………….
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya tulis ilmiah yang berjudul Korelasi Facebook Dengan Kehidupan Sosial
Remaja Seiring Perkembangan Tekhnologi, kami persembahkan kepada:
1. Ibu Maisyaroh Aisiyah selaku pembina Karya Tulis Ilmiah ini.
2. Kedua orang tua kami, yang telah memberi dukungan kepada kami.
3. Teman-teman yang telah membantu dalam proses penyelesaian Karya Ilmiah kami
yang berjudul Korelasi Facebook Dengan Kehidupan Sosial Remaja Seiring
Perkembangan Tekhnologi.
HALAMAN PERSETUJUAN
Karya ilmiah kami yang berjudul Korelasi Facebook dengan Kehidupan
SosialRremaja seiring perkembangan tekhnologi ini di telah diperiksa dan
disetujui oleh:
Malang, 6 Desember 2010
Wali Kelas Guru Bahasa Indonesia
Amnah, S.pd Maisyaroh Aisiyah S.Pd
NIP.19670627 199803 2 003 NIP:19650501 200801 2 005
ABSTRAKSI
Nama Kelompok:
Hafis Rahmanda F. (09)
M.Aris Sirajul U. (12)
Nailul Izzah (16)
Siti Nur Jannah (29)
Judul : Korelasi Facebook dengan Kehidupan Sosial Remaja seiring Perkembangan
Tekhnologi
Facebook adalah situs web jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004
dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid
Ardsley High School. dampak negatif facebook pada remaja, pelajar dan anak
anak. Dampak negatif facebook semakin hari semakin terasa, meskipun para
facebookers banyak yang tidak menyadari akan pengaruh negati facebook
ini,dampak facebook antara lain, tidak peduli dengan sekitarnya, kurangnya
sosialisasi dengan lingkungan,menghamburkan uang, mengganggu
kesehatan,berkurangnya waktu belajar, kurangnya perhatian untuk keluarga,
tersebarnya data pribadi, mudah menemukan sesuatu berbau pornografi dan sex,
rawan terjadinya perselisihan, sering terjadi penipuan. Dengan perkembangan
tekhnologi yang ada remaja pun dapat mengakses facebook lewat
handphone,notebook, laptop untuk mengakses account facebooknya. Beberapa orang
bahkan mengaksesnya hanya untuk memainkan permainan yang terkadang bisa
menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. . Apalagi penggunaan facebook ketika jam
sekolah dapat mengganggu konsentrasi terhadap kewajiban untuk menuntut ilmu. Ketika
di sekolah, tentunya setiap siswa akan bertemu dengan teman-temannya secara
langsung, sehingga penggunaan facebook seharusnya tidak diperlukan. Dampak dari
penggunaan yang berlebihan tersebut tidak akan dirasakan langsung, tapi
terakumulasi, sehingga ketika muncul hanya ada penyesalan. Menggunakan facebook
adalah hal yang diperbolehkan selama itu tidak merusak diri kita sendiri. Sudah
saatnya kita sebagai para pelajar menyadari bahwa kewajiban utamanya adalah
belajar dan sebaiknya kegiatan tersebut tidak terganggu oleh kegiatan lainnya.
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Facebook adalah jejaring sosial dimana pengikut terbanyak adalah kalangan
remaja. Facebook adalah sesuatu yang MENGAGUMKAN “ kata seorang anak laki-laki
berusia lima belas tahun yang dikutip dalam Teenage Life Online, sebuah
penelitian yang dilakukan oleh Pew Internet dan American Life Project.
Menggunakan facebook telah menjadi bagian lazim, sebuah kajian tahun 2009 yang
dilakukan oleh Harris Interactive and Teenage Reasearh Unlimited mengemukakan
bahwa anak muda berusia 13-24 tahun menghabiskan lebih banyak menghabiskan
waktu online setiap minggu di bandingkan menonton televisi, rata-rata 17
banding 14 jam.” Badan Pengamat Tekhnologi (Suwarno:2009) juga mengemukakan
Indonesia merupakan negara terbesar ke-3 pengguna facebook terbanyak.
Saat ini facebook sangat berpengaruh pada kehidupan sosial remaja, ditandai
dengan anggapan bahwa remaja yang mempunyai facebook adalah remaja gaul.
Seiring dengan perkembangan tekhnologi facebook dapat diakses kapanpun
dimanapun. Akhir-akhir ini Badan Pengamat Tekhnologi Indonesia(Suwarno:2009)
juga mengemukakan bahwa 40% remaja mengakses facebook saat pelajaran
berlangsung, ini menandakan bahwa mereka lebih sering online daripada
mendengarkan pelajaran yang diterangkan guru mereka, oleh karena itu saat ini
antara facebook dengan remaja merupakan suatu hubungan yang tak dapat di
pisahkan, padahal akhir-akhir ini banyak kejadian-kejadian yang penyebabnya
juga karena facebook.Hal seperti ini harus segera dicari jalan keluar yang
terbaik agar para remaja tidak telalu larut dalam kemajuan tekhnologi yang
ada.Sehingga para remaja nantinya bisa memilah dengan baik antara waktu belajar
mereka dengan waktu online sehingga mereka tidak menyesal dikemudian hari.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan facebook?
2. Apakah dampak facebook bagi sikap para remaja?
3. Sejauh mana pengaruh facebook terhadap kehidupan sosial remaja?
4. Faktor apa yang membuat facebook sering diakses oleh remaja?
5. Bagaimana cara paling tepat untuk kalangan remaja agar dapat menggunakan
facebook secara konsekuen?
1.3 Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui apa itu facebook
2. Untuk mengetahui dampak positif facebook bagi sikap para remaja
3. Untuk mengetahui pengaruh facebook terhadap kehidupan para remaja
4. Untuk mengetahui faktor yang membuat facebook sering diakses oleh remaja
5. Mengetahui cara paling tepat untuk kalangan remaja agar dapat menggunakan
facebook secara konsekuen
1.4 Ruang Lingkup Pembahasan
1. Pengertian facebook
2. Dampak facebook
3. Pengaruh facebook terhadap kehidupan sosial remaja
4. Faktor –faktor facebook diakses para remaja
5. Cara paling tepat untuk remaja agar dapat menggunakan facebook secara
konsekuen
5. Sistematika Pembahasan
Dalam karya tulis ilmiah kami yang berjudul Korelasi Facebook dengan Kehidupan
Sosial Remaja seiring Perkembangan Tekhnologi tersusun atas Bab I terdiri dari
: 1.1Latar Belakang Masalah;1.2 Rumusan Masalah;1.3 Ruang Lingkup
Pembahasan;1.4Sistematika Pembahasan. Bab II Kajian Teori terdiri atas
:2.1Sejarah facebook;2.2 Dampak Facebook;2.3 Faktor mengapa Facebook Sering
diakses Remaja;2.4 Menemukan Cara Paling Tepat untuk Menggunakan Facebook
Secara Konsekuen.Bab III Metode Pengembangan terdiri atas; 3.1 Prosedur
Pengembangan;3.2 Jenis Data; 3.3 Metode Pembahasan; 3.4 Instrumen Pengumpulan
Data; 3.5 Analisis Data.Bab IV Penutup terdiri atas :4.1 Kesimpulan;4.2 Saran.
BAB II. KAJIAN TEORI
1. Sejarah
facebook
Facebook adalah situs web jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004
dan didirikan oleh Mark Zuckerberg,
Facebook adalah situs web jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004
dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid
Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari
Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke
sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts),
Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam
Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan
berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya,
orang-orang yang memiliki alamat surat-e suatu universitas (seperti .edu,
.ac.uk, dll) dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs ini.
Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan
beberapa perusahaan besar. Sejak 11 September 2006, orang dengan dengan alamat
surat apa pun dapat mendaftar di Facebook.[2] Pengguna dapat memilih untuk
bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan
sekolah tingkat atas, tempat kerja, atau wilayah geografis.
Hingga Juli 2007, situs ini memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di
antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota
aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia.[3] Dari September 2006 hingga
September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling
banyak dikunjungi,[4] dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika
Serikat, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto
dimuat setiap harinya.(Wikipedia.com/google.com)
2. Dampak facebook
Dampak negatif
facebook pada remaja, pelajar dan anak anak. Dampak negatif facebook semakin
hari semakin terasa, meskipun para facebookers banyak yang tidak menyadari akan
pengaruh negati facebook ini. Mungkin karena sudah kecanduan dengan yang
namanya facebook. Tapi justru inilah yang berbahaya, yang tidak disadari.Buat
kamu para remaja dan pelajar serta anak anak, kamu harus tahu apa saja dampak
negatif dari facebook. Karena pengguna facebook di dominasi oleh para remaja
usia 14-24 tahun sebanyak 61,1%.(http.//www. Joeypandjaitan.com)
Ini adalah sepuluh dampak facebook
1. Tidak peduli dengan sekitarnya
Orang yang sudah kecanduan facebook terlalu asyik dengan dunianya sendiri
(dunia yang diciptakannya) sehingga tidak peduli dengan orang lain dan
lingkungan di sekitarnya. Seseorang yang telah kecanduan facebook sering
mengalami hal ini.
2. Kurangnya sosialisasi dengan lingkungan
Ini dampak dari terlalu sering dan terlalu lama bermain facebook. Ini cukup
mengkhawatirkan bagi perkembangan kehidupan sosial remaja. Mereka yang
seharusnya belajar sosialisai dengan lingkungan justru lebih banyak
menghabiskan waktu lebih banyak di dunia maya bersama teman-teman facebooknya
yang rata rata membahas sesuatu yang tidak penting. Akibatnya kemampuan verbal
si anak menurun. Tentu yang dimaksud autis di sini bukan dalam arti yang
sebenarnya.
3. Menghamburkan uang
Akses internet untuk membuka facebook jelas berpengaruh terhadap kondisi
keuangan (terlebih kalau akses dari warnet). Dan biaya internet di Indonesia
yang cenderung masih mahal bila dibanding negara negara lain (mereka sudah
banyak yg gratis). Ini sudah bisa dikategorikan sebagai pemborosan, karena
tidak produktif. Lain soal jika mereka menggunakannya untuk kepentingan bisnis.
Ibid : Http://joeypandjaitan.wordpress.com
4. Mengganggu kesehatan
Terlalu banyak nongkrong di depan monitor tanpa melakukan kegiatan apa pun,
tidak pernah olah raga sangat beresiko bagi kesehatan. Penyakit akan mudah
datang. Telat makan dan tidur tidak teratur. Obesitas (kegemukan), penyakit
lambung (pencernaan), dan penyakit mata adalah gangguan kesehatan yang paling
mungkin terjadi.
5. Berkurangnya waktu belajar
Ini sudah jelas, terlalu lama bermain facebook akan mengurangi jatah waktu
belajar si anak sebagai pelajar. Bahkan ada beberapa yang masih asyik bermain
facebook saat di sekolah.
6. Kurangnya perhatian untuk keluarga
Keluarga di rumah adalah nomor satu. Slogan tersebut tidak lagi berlaku bagi
para facebookers. Buat mereka temen temen di facebook adalah nomor satu. Tidak
jarang perhatian mereka terhadap keluarga menjadi berkurang.
7. Tersebarnya data pribadi
Beberapa facebookers memberikan data-data mengenai dirinya dengan sangat
detail. Biasanya ini untuk orang yang baru kenal internet hanya sebatas
facebook saja. Mereka tidak tahu resikonya menyebarkan data pribadi di
internet. Ingat data data di internet mudah sekali bocor, apalagi facebook yang
gampang sekali di hack!
8. Mudah menemukan sesuatu berbau pornografi dan sex
Mudah sekali bagi para facebookers menemukan sesuatu yang berbau porno dan.
Karena kedua hal itu yang paling banyak dicari di internet dan juga paling
mudah ditemukan. nah, inilah fakta tidak dewasanya pengguna intenet Indonesia.
Hanya menggunakan internet untuk mencari konten "berlendir". Di
facebook akan sangat mudah menemukan grup sex, grup tante kesepian, grup cewek
bispak dsb.
9. Rawan terjadinya perselisihan
Tidak adanya kontrol dari pengelola facebook terhadap para anggotanya dan
ketidak dewasaan pengguna facebook itu sendiri membuat pergesekan antar
facebookers sering sekali terjadi.
Ibit:Http://Joeypandjaitan.wordpress.com
10. Sering terjadi penipuan
Seperti media media lainnya, facebook juga rawan terhadap penipuan. Apalagi
bagi anak anak yang kurang mengerti tentang seluk beluk dunia internet. Bagi si
penipu sendiri, kondisi dunia maya yang serba anonim jelas sangat
menguntungkan.
3. Faktor mengapa facebook sering di akses remaja
Menurut Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Informatika (STMIK TIME) Edi Wijaya*,
dalam bukunya yang berjudul remaja dan media halaman 9, baik buruknya
menggunakan Facebok itu tergantung orangnya.
"Jika dia menggunakan untuk hal-hal kurang bermanfaat, maka yang rugi
dirinya sendiri karena telah menyalah. Sebaliknya Facebook itu bisa bermanfaat
bila mencari hal positifnya," ujar Edi Wijaya.
Menurut penelitiannya, factor yang mempengaruhi mengapa facebook sering di
akses oleh remaja 45% dikarenakan remaja merasa terhibur, 27% mengatakan mereka
lebih mudah mendapatkan teman dan tidak kesepian lagi akibat mereka susah
bersosialisasi, 20% mengatakan untuk bermain game yang ada di facebook,
sedangkan 8% hanya karena ada tugas. http://karya-tulis-ilmiah-makalah.blogspot.com/
Sebagai orang muda, kata Edi, Facebook itu bisa juga memberikan
"kelonggaran" bagi orang-orang yang bekerja untuk mengendorkan
urat-urat syarafnya setelah habis bekerja. Selain itu, juga bisa mendapatkan
ilmu karena di situs itu juga terdapat blok-blok tentang ilmu pengetahuan.(Edi
Wijaya,Remaja dan Media(Bandung: Pakar Raya, 2010))
4. Cara paling tepat untuk menggunakan facebook secara konsekuen
Sudah menjadi pemandangan biasa, dimana-mana orang memegang handphone atau membuka
notebook untuk mengakses account facebooknya. Beberapa orang bahkan
mengaksesnya hanya untuk memainkan permainan yang terkadang bisa menghabiskan
waktu berjam-jam lamanya.
Apalagi penggunaan facebook ketika jam sekolah dapat mengganggu konsentrasi terhadap
kewajiban untuk menuntut ilmu. Ketika di sekolah, tentunya setiap siswa akan
bertemu dengan teman-temannya secara langsung, sehingga penggunaan facebook
seharusnya tidak diperlukan. Dampak dari penggunaan yang berlebihan tersebut
tidak akan dirasakan langsung, tapi terakumulasi, sehingga ketika muncul hanya
ada penyesalan. Kami mengalami hal tersebut walaupun bersumber dari masalah
yang berbeda. Menggunakan facebook* adalah hal yang diperbolehkan selama itu
tidak merusak diri kita sendiri. Sudah saatnya kita sebagai para pelajar
menyadari bahwa kewajiban utamanya adalah belajar dan sebaiknya kegiatan
tersebut tidak terganggu oleh kegiatan lainnya.( Http// Uncategoriz.com)
BAB III. METODE PENGEMBANGAN
3.1 Prosedur
Pengembangan
1. Populasi
Populasi dan wilayah generalisasi yang terdiri dari objek yang mempunyai
kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 1994:5).
Dengan demikian populasi merupakan keseluruhan objek yang diteliti. Dalam
penelitian ini, populasi terdiri dari seluruh siswa SMA Negeri 1 Tumpang.
2. Sampel
Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam suatu wilayah
penelitian, maka penelitiannya adalah penelitian populasi. Tetapi apabila yang
hendak diteliti hanya sebahagian dari populasi, maka penelitiannya disebut
penelitian sampel.
Sugiyono (1994:7) menyatakan bahwa sampel adalah sebahagian dari jumlah
populasi. Sedangkan menurut Hadi (Narbuko dan Ahmadi, 1991:107) sampel adalah
sebagian individu yang diselidiki dari kesuluruhan individu penelitian.
Dalam penelitian ini, sampel terdiri dari 36 orang siswa kelas X8
3.2 Jenis Data
Menurut Lofland (1984:47) sumber data yang pertama dalam penelitian adalah
kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan.
Dan dalam penelitian kami, jenis data yang kami gunakan adalah random.
3. Instrumen Pengumpulan Data
Dalam penulisan karya ilmiah kami, instrumen yang kami gunakan untuk mengadakan
penelitian adalah angket.
Angket adalah suatu alat pengumpul data yang berupa serangkaian pertanyaan yang
diajukan pada responden untuk mendapat jawaban (Depdikbud:1975)
Contoh Angket:
(berilah tanda
(√) yang menjadi jawaban anda!)
|
Daftar
Pertanyaan |
Pilihan Jawaban |
|
|
Ya |
Tidak |
|
|
1. Apakah
anda tahu internet? |
|
|
Contoh Analisis Data Sederhana
|
No Soal |
Jumlah
Jawaban Ya |
% jawaban Ya |
Jumlah
Jawaban Tidak |
% Jawaban
Tidak |
|
1 |
|
|
|
|
|
Jumlah |
577 |
|
373 |
|
|
Rata-rata |
16,03 |
|
8,93 |
|
|
Persen |
|
|
|
|
Kesimpulan data
Berdasarkan penelitian, diperoleh hasil bahwa siswa SMA Negeri 1 Tumpang
mengetahui sebagai berikut:
1. 100% siswa SMAN 1 Tumpang, mengetahui apa itu internet.
2. 88,9% siswa SMAN 1 Tumpang, sering mengakses internet
3. 100% siswa SMAN 1 Tumpang, memiliki email
4. 75% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka mengetahui kepanjangan dari email
5. 58,3% siswa SMAN 1 Tumpang, memiliki email lebih dari satu
6. 86,1% siswa SMAN 1 Tumpang, mengetahui apa itu facebook
7. 33,3% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka mengetahui sejarah facebook
8. 91,7% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka menjawab memilki facebook
9. 30,6% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka memiliki facebook lebih dari Satu
10. 72,2% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka membuat facebook sendiri
11. 72,2% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka mengatakan facebook penting bagi mereka
12. 75% siswa SMAN 1 Tumpang, sering mengakses facebook
13. 50% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka sering mengakses facebook saat pelajaran
14. 52,8% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka mengakses facebook melalui handphone
15. 38,9% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka memiliki facebook karena paksaan teman
16. 66,7% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka merasa terhibur saat mengakses internet
17. 30,6% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka beranggapan facebook dibuat untuk
kepentingan sendiri
18. 38,9% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka membuat facebook untuk kepantingan tugas
19. 88,9% siswa SMAN 1 Tumpang, orangtua mereka tahu kalau mereka mempunyai
facebook
20. 69,4% siswa SMAN 1 Tumpang, orang tua mereka mengizinkan mereka memiliki
facebook
21. 36,1% siswa SMAN 1 Tumpang, facebook dibuatkan oleh rekan mereka
22. 69,4 % siswa SMAN 1 Tumpang, mereka mengetahui manfaat facebook
23. 52,8% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka merasa facebook sangat mengganggu waktu
belajar mereka
24. 47,2% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka mengaku bahwa waktu mengakses facebook
lebih lama dari waktu belajar mereka
http://karya-tulis-ilmiah-makalah.blogspot.com/
25. 77,8% siswa SMAN 1 Tumpang, mereka mengaku dicuekkan oleh teman mereka saat
teman mereka mengakses facebook
Dari data
diatas dapat disimpulkan bahwa, Siswa SMAN 1 Tumpang mengikuti perkembangan
tekhnologi yang ada terbukti dari hasil penelitian kami, yang menyatakan 100%
siswa SMAN 1 Tumpang mengerti akan internet dan memiliki email. Sedangkan para
pengguna facebook sebesar 91,7% itu berarti hanya sekitar 8,3% atau setara
dengan 3 orang anak yang tidak memiliki facebook, itu merupakan bukti yang kuat
tentang adanya hubungan antara remaja dan facebook. Data yang didapat oleh kami
juga menggambarkan keadaan yang mengkhawatirkan yang terjadi saat ini di
kalangan pelajar akibat penggunaan situs jejaring sosial yang berlebihan.
Penggunaan facebook ketika jam sekolah dapat mengganggu konsentrasi terhadap
kewajiban untuk menuntut ilmu. Ketika di sekolah, tentunya setiap siswa akan
bertemu dengan teman-temannya secara langsung, sehingga penggunaan facebook
seharusnya tidak diperlukan. Kami pernah mendengar wawancara dengan psikolog di
televisi tentang akibat penggunaan facebook. Dalam wawancara itu, psikolog
tersebut menyatakan bahwa penggunaan situs jejaring sosial yang berlebihan
justru bisa menurunkan kemampuan bersosialisasi seseorang. Hal itu bisa terjadi
karena kurangnya interaksi langsung dengan orang lain dan hanya berkomunikasi
menggunakan komputer.
Berikut diagram hasil penyebaran angket.
BAB IV. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah kami laksanakan terhadap siswa-siswi
SMAN 1 Tumpang, khususnya siswa-siswi kelas X-8, ternyata faceboook merupakan
jejaring sosial yang mana mempunyai banyak sekali dampak buruk terhadap
kehidupan sosial remaja seperti, mengganggu jam belajar ,dari hasil penelitian
yang kami dapat 50% remaja mengakses facebook saat jam pelajaran, membuat
remaja kurang bersosialisasi dengan lingkungan itu disebabkan karena mereka
terlalu larut dengan apa yang mereka lakukan, mengganggu kesehatan, karena
semakin lama mereka mengakses facebook maka semakin lama juga mereka di depan
monitor, yang mana itu sangat tidak baik untuk kesehatan mata selain itu
mengganggu kesehatan lambung kita, orang yang keasyikan mengakses facebook akan
lupa akan jam makannya sehingga pola makan mereka yang tidak teratur membuat
gangguan pada lambung merekadan masih banyak dampak dari penggunaaan facebook secara
belebihan.Melihat hal seperti ini harus dilakukan cara khusus yakni pembinaan
kepada remaja SMAN 1 Tumpang agar mereka tidak terlarut dengan kemajuan yang
ada sehingga konsentrasi belajar mereka meningkat dan menigkatkan prestasi
belajar anda.
2. Saran
Saran kami bagi para remaja pengguna facebook untuk bisa menggunakan facebook
secara konsekuen dengan cara mampu memilah waktu, antara waktu belajar dan
waktu menggunakan facebook ,agar nantinya tidak menyesal di kemudan hari.Dan
untuk diadakan pembinaan terhadap remaja agar nantinya mereka mengerti
bagaimana dampak penggunaan facebook yang secara terus-menerus, hingga nantinya
diharapkan mereka menyadari dan mengerti bahwa mereka adalah siswa yang
kewajibannya adalah belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Http://Joeypandjaitan.Wordpress.Com.
Http:// Uncategoriz.com
Wikipedia.com
Hernandez, Roger E.2007.The Gallup Youth Survey. Bandung: Pakar Raya .
Moleong, Lexy j.1989. Metodologi Penelitian kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Saukah, Ali.2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Universitas Negeri
Malang.
Wijaya, Edi.2009. Remaja dan Media.Bandung: Pakar Raya
Zuhairi, Aminudin.2006.Tekhnik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Universitas
Terbuka.

Komentar
Posting Komentar