SIMULASI PERTEMUAN XI

UNDANGAN MAJELIS SIMULASI 

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Dengan mengharap Rahmat dan berkah Allah SWT kegiatan kita akan dimulai kembali, pada:

Hari: Ahad, 25 Agustus 2024/20 Shafar 1446 H

Waktu: 10.00-12.00

Tempat: Taman Belajar Ulil Albab

Kegiatan Kajian: 

1. Tilawah

2. Tafsir

3. Kisah Sahabat

4. Kultum

5. Materi Iman

Petugas:

1. MC dan tilawah: Mbak Rahma

2. Tafsir: Mbak Roi

3. Kisah Sahabat:Mbak Nelis

4. Kultum: Ummu Tunda

5. Materi dan Muhasabah: Ummi Titin

6. Doa Muhasabah : Ibu Hj Untitik


Semua materi kajian akan dishare di grup insya Allah.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


MC Pertemuan XI
(Petugas: Mbak Ulil )

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh, sebelum Kita Buka majelis ini perkenankan MC menyampaikan susunan kegiatan kita hari ini:
1. Pembacaan Basmalah dan Asmaul Husna bersama-sama
2. Pembukaan majelis dan tilawah Al-Baqarah 126-127 beserta artinya oleh MC
3. Penyampaian Tafsir oleh Mbak Roi
4. Penyampaian kisah sahabat Usman bin Affan oleh Mbak Nelis
5. Kultum oleh Ummu Tunda
6. Penyampaian Materi oleh Ummi Titin
7. Terakhir Doa Muhasabah oleh Ibu Hj Untitik
8. Penutup majelis

1.Pembacaan Basmalah dan Asmaul Husna Bersama-Sama

Bismillahirrahmanirrahim 
Nasaluka
Yaa Man Huwallahulladzii
Laa Ilaaha Illaahuwarrohmaanur Rohimul

Al Malikul Qudduusus Salaamul Mu’minul Muhaiminul ‘Aziizul Jabbaar
Almutakabbirul Khooliqulbaariul Mushowirul Ghoffarul
Qohharul Wahaabur Rozzaaqul Fattaahul ‘Aliim

Alqoobidhul Baasithul Khoofidhur Roofi’ul
Mu’izzul Mudhillus Samii’ul Bashiirul Al Hakamul’Adl
Allathiiful Khobiir
Alhaliimul ‘Adhim
Alghofurus Syakuur
Al Aliyul Kabiirul Hafiidhul Muqiitul

Al Hasiibul Jaliil Al Kariimur Roqiibul Almujiibul
Waa Si’ul Hakiimul Waduudul Majiidul Baa’itsus Syahid

Alhaqqulwakiil
Alqowiyul Matiin
Alwaliyul Hamiid
Almuhshil Mubdiul Mu’iid
Almuhyil Mumiitul Hayyul Qoyyum

Alwaajid Almaajidul Alwaahidulahadus Shomadul
Qoodirul Muqtadirul Muqoddimul Muakhkhirul Awwalul Akhiir
Addhoohirul Baatinul Waalil Muta’alil Barruttawwaaabul Muntaqimul ‘Afuwwur Roufum Maalikul Mulki Dzul Jalaali Wal Ikroom

Almuqsitul Jaami’ul Ghoniyul Mughnil Maani’ Adhhooru Annaafi’unnuurul Haadiil Badii’ul Baaqii
Alwaaritsur rosyiidus Shobuurulladzi laisa kamits lihi Syaiun Wahuwas Samii’ul Bashiir

Alloohumma Solli Afdhollas Sholatin’alaa As’adi Makhluuqoo Tika
Sayyidinaa Muhammadiwa’alaa alihii
Washohbihii wasallim ‘Adada Ma’luu Maatika Wamidaa Dzakalimaa Tika Kullamaa
Dzakaro Kadzazaakiruuna Waghofala ‘An Dzikrihil Ghoofiluun.

2.  Pembukaan Majlis dan Tilawah Al-Baqarah 126-127 bersama artinya.

السَّـــلاَمُْ عَلَيْـــكُم وَرَحْمَــةُ اللَّـــهِ وَبَـرَكَـاتُـهْ
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 
۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞

DOA PEMBUKA MAJELIS 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب

Artinya: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali Imran: 8)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Artinya:“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.(HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Artinya: "Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu."(HR. Muslim)

Pembacaan Ayat suci Alquran Surat Albaqarah beserta maknanya Yang akan dibacakan oleh MC
Albaqarah beserta artinya : ayat 126-127

وَاِذۡ قَالَ اِبۡرٰهٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارۡزُقۡ اَهۡلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡهُمۡ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ؕ قَالَ وَمَنۡ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيۡلًا ثُمَّ اَضۡطَرُّهٗۤ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ‌ؕ وَبِئۡسَ الۡمَصِيۡرُ
Wa iz qoola Ibraahiimu Rabbij 'al haazaa baladan aaminanw warzuq ahlahuu minas samaraati man aamana minhum billaahi wal yawmil aakhiri qoola wa man kafara faumatti'uhuu qaliilan summa adtarruhuuu ilaa 'azaabin Naari wa bi'salmasiir
126. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, "Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian," Dia (Allah) berfirman, "Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."
وَاِذۡ يَرۡفَعُ اِبۡرٰهٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَيۡتِ وَاِسۡمٰعِيۡلُؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ‌ؕ اِنَّكَ اَنۡتَ السَّمِيۡعُ الۡعَلِيۡمُ
Wa iz yarfa'u Ibraahiimul qawaa'ida minal Baitiwa Ismaa'iilu Rabbanaa taqabbal minnaa innaka Antas Samii'ul Aliim
127. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), "Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

4.  Kajian Kisah Sahabat yang akan dibawakan oleh Mbak Nelis Kepada Mbak Nelis dipersilahkan

5.  Penyampaian Materi oleh Ummi Titin tentang Haq dan Iman Hakikat

6.  Doa Muhasabah akan disampaikan oleh Ibu Hj Untitik, kepada beliau dipersilahkan.

7.  Penutup Majelis (MC):
*Saatnya bersama-sama kita tutup Taklim Kita Kali ini, 
Istighfar 3x
‎اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِیْمَ 
Hamdalah 1x
‎الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 
Dilanjutkan doa kafaratul majlis
سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ ‎لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ 
وَأَتُوْبُ  إِلَيْكَ


Kajian Tafsir (Pertemuan XI)
(Petugas: Mbak Roi)

Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillahirabbil'alamiin Ashshalatu wassalam 'ala Rasulillah SAW. Ammaba'du

✅⿡🇵🇸 Tilawah, Tahsin
Juz 1, QS 1 Alfatihah (Pembukaan), 7 Ayat, Ayat Ke-7
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

Hukum mad thobi'i pada kata "صِرَاطَ".

Hukum Alif lam syamsyiyah (alla), mad thobi'i (dzii), Izhar halqi (an am), Izhar Syafawi  (amta) dan mad layyin (lai)  pada kata "صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ".

Hukum mad layyin (ghoi), izhar qamariyah (almagh), mad thobi'i(dzuu), mad layyin ('alai), Izhar Syafawi (him) pada kata "غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ".

Hukum Alif lam  syamsyiyah (adh-dho) mad lazim kilmi mutsaqqol (dhoooll), dan mad arid lissukun  (liiin) pada kata "وَلاَالضَّآلِّينَ".

✅⿢🇵🇸 Terjemah
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

✅⿣🇵🇸 Zubdatut Tafsir
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam surat an-Nisa’ ayat 69-70 : “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu dengan Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah (sebagai Dzat yang) Maha mengetahui.
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
Yakni orang-orang Yahudi.
 وَلَا الضَّالِّينَ 
Yakni orang-orang Nasrani.

Hal ini disebabkan karena orang-orang Yahudi mengetahui kebenaran akan tetapi memeranginya sehingga mereka berhak mendapat kemarahan dari Allah Ta’ala. Sedangkan orang-orang Nasrani memerangi kebenaran disebabkan kebodohan yang ada pada mereka sehingga mereka berada dalam kesesatan yang nyata dalam masalah nabi Isa.
Disebutkan dalam hadist yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda: “tidaklah orang-orang Yahudi dengki terhadap sesuatu melebihi kedengkian mereka terhadap salam dan kalimat amin (yang ada dalam Islam)”. Dan makna dari kalimat amin adalah Ya Allah kabulkanlah untuk kami.

✅⿤🇵🇸 Tadabbur
Ayat ini menjadi pembeda manusia yaitu:
1. Diberi nikmat
2. Dimurkai
3. Tersesat
4. Syuhada

Orang yang diberi nikmat adalah 
*Nabi dan Rasul
*Shadiqin
*Shalihin
1. Mengikuti jejak keutamaan para Nabi yang mencakup perbuatan.
2. Mempunyai komitmen kuat terhadap Islam.
3. Mempunyai keimanan kepada Allah dan Rasulullah SAW, mendirikan salat, menepati janji, serta menunaikan zakat.
4. Tidak ragu berjihad dengan harta dan jiwa.
5. Kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
6. Kesesuaian antara informasi dan kenyataan.
7. Ketegasan dan kemantapan hati.
8. Sesuatu yang baik yang tidak dicampuri kedustaan.
(Bagi mereka makan 1 kali sehari cukup)

Ciri Shalihin:
1. Beriman kepada Allah 
2. Taat kepada Allah dan Rasul 
3. Menolong agama Allah 
4. Melakukan amal shaleh 
5. Berjihad di jalan Allah 
6. Akhirat sebagai tujuan utamanya 
6. Sabar menghadapi ujian dari Allah 
7. Sering membaca Al-Qur'an 
8. Salat 
9. Percaya pada hari akhir 
10. Amal makruf nahi mungkar 
11. Berlomba-lomba dalam kebaikan 
12. Halus perkataannya 
13. Memuliakan orang tua 
14. Memberikan kasih sayang kepada anak kecil dan sanak saudara 
15. Mengamalkan ilmu yang dimiliki secara bertanggung jawab 
16. Ketika diberikan kesempatan untuk berbuat baik, memuji nama Allah 
17. Jika diberikan ujian atau melakukan kesalahan, segera memohon ampunan kepada Allah 
18. Berkata yang sebenarnya 
19. Selalu taat pada perintah dan menjauhi larangan Allah 
20. Tidak melakukan ingkar janji terhadap orang lain 
21. Selalu percaya dengan ajaran Allah SWT dan Rasu-Nya 
21. Berusaha untuk bersikap adil 
22. Melakukan suatu hal sesuai dengan perbuatannya

Cara memperoleh gelar syuhada:
1. Meninggal di Medan Jihad
2. Meninggal saat melahirkan
3. Meninggal dalam kecelakaan
4. Meninggal karena wabah
5. Meninggal karena bencana alam

Wallahu a'lam bishshowaab
Wa shadaqallahul'dzim


KISAH SAHABAT  (SAYIDINA UTSMAN BIN AFFAN)-Pertemuan XI
Oleh: Mbak Nelis

Sayyidina Utsman bin Affan 17 juni 579 M adalah Khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 M hingga 656 M dan merupakan Khulafaur  Rasyidin yang paling lama memerintah. Seperti dua pendahulunya,  Sayyidina Utsman adalah salah satu sahabat utama Nabi Muhammad. Perkawinannya yang berturut-turut dengan kedua putri Nabi Muhammad dan Khadijah membuatnya mendapat julukan Dzun Nurain (pemegang dua pelita).

Selama masa pemerintahannya, pemerintah Muslim memperluas wilayahnya ke Fars (sekarang Iran) pada tahun 650 dan sebagian Khorāsān (sekarang Afghanistan) pada tahun 651. Penaklukan Armenia telah dimulai pada tahun 640-an. Sayyidina Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab.

Sayyidina Utsman lahir dari seorang ayah bernama Affan bin Abi al-‘As, dari suku Umayyah, dan dari seorang ibu bernama Arwa bint Kurayz, dari Abd Shams, suku Quraisy yang kaya dan dihormati di Makkah. Utsman memiliki seorang adik perempuan, Aminah. Sayyidina Utsman lahir di Ta’if.

Dia terdaftar sebagai salah satu dari 22 orang Mekkah yang bisa menulis. Ayahnya, Affan, meninggal di usia muda saat bepergian ke luar negeri, meninggalkan warisan penting bagi Sayyidina Utsman. Dia menjadi pedagang seperti ayahnya, dan bisnisnya berkembang pesat, menjadikannya salah satu orang terkaya di kalangan suku Quraisy.

Sayyidina Utsman bin Affan adalah sahabat Nabi dan juga Khalifah ketiga dari Rashidun Khulafaur. Ia dikenal sebagai seorang pengusaha kaya dan handal di bidang ekonomi namun sangat dermawan. Dia sangat membantu ekonomi umat Islam di masa-masa awal dakwah Islam. Ia dijuluki Dzun Nurain yang berarti satu dengan dua lampu. Julukan ini didapat karena Sayyidina Utsman menikah dengan putri kedua dan ketiga Rasulullah ﷺ Ruqayyah dan Ummu Kulthum.

Sayyidina Utsman bin Affan lahir pada tahun 574 M dari Bani Umayyah. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan As-Sabiqun al-Awwalun (golongan pertama yang masuk Islam). Rasulullah ﷺ sendiri menggambarkan Sayyidina Utsman bin Affan sebagai muslim yang paling jujur dan rendah hati. Imam Muslim menceritakan bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Abu Bakar masuk tapi kamu biasa saja dan tidak memperhatikannya, lalu Umar juga datang kepadamu biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Tapi ketika Sayyidina Utsman masuk, kamu terus memperbaiki bajumu, ada apa?” Utusan Allah menjawab: “Apakah saya tidak malu pada mereka yang bahkan para malaikat pun jadi malu padanya?”

Pada saat Perang Dzatirriqa yang berkecamuk dan Perang Ghatfahan, di mana Rasulullah ﷺ mengobarkan panji perang, Sayyidina Utsman diyakini sebagai walikota Madinah. Selama Perang Tabuk, Sayyidina Utsman menyumbangkan 950 unta dan 70 kuda, ditambah sumbangan pribadi sebesar 1.000 dirham untuk Perang Tabuk, yang nilainya sepertiga dari biaya perang. Sayyidina Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya dengan membeli mata air bernama Rumah dari seorang laki-laki suku Ghifar seharga 35.000 dirham.

Ia mendedikasikan sumber daya air untuk kepentingan masyarakat. Pada masa pemerintahan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Utsman juga menyumbangkan gandum yang diangkut dengan 1000 ekor unta untuk membantu yang membutuhkan pada musim kemarau.

Dia adalah khalifah pertama yang memperluas Masjid al-Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah karena semakin banyak umat Islam yang mempraktikkan rukun Islam kelima (haji). Dia menciptakan ide kebijakan keamanan untuk rakyatnya; pembangunan gedung khusus untuk pengadilan dan putusan perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; mengembangkan pertanian, menaklukkan beberapa daerah kecil di sekitar perbatasan seperti Suriah, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rhodes, dan membentuk angkatan laut yang kuat.

Karya terbesarnya adalah ketika ia memberlakukan kebijakan pengumpulan Alquran dalam sebuah mushaf. Selama masa jabatannya, Sayyidina Utsman banyak mengganti gubernur daerah yang tidak layak atau tidak kompeten dan menggantinya dengan yang lebih amanah.

Riwayat Singkat Sayyidina Utsman Bin Affan

Awal Mula Masuk Islam

Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dan mendakwahkan Islam, Abu Bakar menjadi orang pertama yang masuk Islam. Setelah melakukan perjalanan bisnis ke Syiria pada tahun 611 M, Sayyidina Abu Bakar mendatangi Sayyidina Utsman bin Affan untuk mengajaknya masuk Islam. Sayyidina Utsman pun memutuskan untuk masuk Islam dan kemudian dibawa oleh Sayyidina Abu Bakar menemui Nabi Muhammad untuk menyatakan keimanannya.

Dengan cara ini, Sayyidina Utsman menjadi salah satu orang pertama yang masuk Islam, setelah Ali, Umar, Abu Bakar dan beberapa lainnya. Sejak saat itu, ia tetap setia kepada Nabi Muhammad SAW dan menjadi salah satu sahabat utama Nabi. Setelah menerima ajakan hijrah ke Madinah, Sayyidina Utsman menjadi salah satu orang yang berangkat dan mendampingi Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam hingga akhir hayat Nabi.

Sayyidina Utsman menerima Islam dengan mudah, karena dia mendapat penglihatan seperti mimpi ketika dia kembali dari Suriah. Saat ia berjuang untuk tertidur, Utsman mendengar suara memanggil: “Wahai orang yang sedang tertidur, bangunlah karena Muhammad telah muncul di Makkah,” katanya.

Sampai dia kembali, dia belum pernah mendengar tentang agama baru itu. Sayyidina Utsman menghubungi Abu Bakar, yang memberitahunya bahwa dia telah bersumpah setia kepada Nabi Muhammad dan telah menerima agama baru itu. Kemudian dia membawa Utsman menemui Nabi Muhammad.

Sayyidina Utsman mendengarkan kisah pengalaman Nabi Muhammad dan keadaan di mana kenabiannya diturunkan. Dia segera menerima Islam dan kemudian bergerak dengan sangat mudah di lingkaran sahabat Nabi Muhammad.

Ketika pesan Nabi Muhammad mencapai publik, hal itu membuat Makkah kacau balau. Banyak pemimpin takut kehilangan uang. Pesannya yang hanya untuk Tuhan berarti bahwa masuknya peziarah ke Ka’bah untuk menyembah banyak berhala sekarang akan melambat atau bahkan berhenti.

Tantangan setelah bergabung dengan Islam
Ketika barisan pengikut Nabi Muhammad mulai tumbuh, kaum Quraisy memulai kampanye penganiayaan dan pelecehan terhadap Muslim baru. Kaum Quraisy siap berjuang untuk melindungi berhala mereka dan juga untuk melindungi cara hidup ekonomi dan sosial mereka. Kampanye dengan cepat meningkat menjadi kekerasan dan pelecehan dan bahkan anggota keluarga mereka tidak aman.

Penerimaan Sahabat Utsman terhadap Islam menyebabkan reaksi balik di keluarganya sendiri. Ayah Sahabat Utsman sudah meninggal tetapi pamannya berusaha menahan Sayyidina Utsman. Dia mengikat tangan dan kakinya dan menguncinya di lemari.

Ibu dan pamannya ingin dia berhenti memeluk Islam, tapi dia menolak. Sayyidina Utsman juga menghadapi pilihan sulit dalam pernikahannya. Istri-istrinya menolak untuk menerima Islam dan meskipun dia berusaha meyakinkan mereka tentang keindahan Islam, dia akhirnya harus menceraikannya.

Menjadi Khalifah
Ketika Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 632, Abu Bakar menjadi khalifah yang berkuasa atas umat Islam. Pada masa ini, Sayyidina Utsman bin Affan dan kawan-kawan lainnya menjadi penasehat utama pemerintahan Sayyidina Abu Bakar. Setelah kematian Abu Bakar pada tahun 634, Umar bin Khattab menggantikannya hingga kematiannya pada tahun 644.

Setelah Sayyidina Umar menjabat sebagai Khulafaur Rasyidin kedua, Sayyidina Utsman tetap tinggal di Madinah untuk menjalankan bisnisnya dan ikut serta dalam pemerintahan. Berbagai peristiwa ia alami, hingga Umar bin Khattab meninggal dunia karena dibunuh oleh Abu Lu’luah.

Setelah itu, dilakukan diskusi untuk memilih khalifah berikutnya. Ada enam kaliper calon yang diajukan, yakni Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Namun, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri, meninggalkan Utsman dan Ali sendirian.

Setelah dilakukan jajak pendapat, mayoritas menginginkan Sayyidina Utsman menggantikan Umar sebagai raja ketiga. Maka pada bulan Muharram 23 H atau 644 M, Sayyidina Utsman bin Affan menjadi khalifah pada usia 70 tahun.

Masa Pemerintahan Sayyidina Utsman Bin Affan
Salah satu hal yang dilakukan Utsman bin Affan selama menjadi khalifah adalah memperluas wilayahnya dan mendirikan armada angkatan laut. Pemerintahannya berhasil menguasai Barqah, Tripoli Barat, bagian selatan negeri Nubah di Afrika, Armenia, Tabaristan, Amu Darya, Balkha, Harah, Kabul, Haznah di Turkistan di Asia dan Siprus di Eropa. Utsman juga membagi kerajaan Muslim menjadi sepuluh provinsi dengan masing-masing seorang emir atau gubernur.

Di bawah pemerintahannya, umat Islam mengalami masa kemakmuran dan kemakmuran terbesar. Konon, orang bisa pergi haji lebih dari satu kali. Utsman juga membangun polisi dan pengadilan yang selalu berdiri di bekas masjid. Pencapaian Sayyidina Utsman yang paling gemilang adalah kompilasi Alquran yang kemudian diperbanyak dan dikirim ke Mekkah, Suriah, Basrah, Kufah, dan Madinah.

Akhir Masa Pemerintahan
Sayyidina Utsman bin Affan memerintah selama dua periode, masing-masing berlangsung selama enam tahun. Namun, pada pemerintahan keduanya, terjadi perpecahan dan pemberontakan karena posisi strategis dalam pemerintahan diberikan kepada keluarganya oleh Bani Umayyah. Pada tahun 35 H atau 655 M, sekitar 1.500 orang datang ke Madinah untuk memprotes kebijakan Sayyidina Utsman.

Namun karena tidak mendapat tanggapan, protes tersebut berubah menjadi pemberontakan yang menggulingkan pemerintahannya. Sayyidina Utsman dikepung oleh pasukan ini, tetapi menolak untuk berperang karena dia tidak menginginkan pertumpahan darah di antara saudara-saudara Muslimnya. Khalifah Utsman bin Affan meninggal pada tahun 656 setelah seorang pemberontak bernama Al-Gafiqi berhasil masuk melalui atap dan menemukan kamarnya. Penyebab kematian Sayyidina Utsman bin Affan adalah pukulan di kepala.

Keteladanan Utsman bin Affan
Berikut 5 contoh keteladanan dari Sayyidina Utsman bin Affan:
1.  Peduli agama dan umat
Sayyidina Utsman bin Affan disebut-sebut sebagai khalifah ketiga setelah wafatnya ‘Umar bin Khattab. Terpilihnya Utsman bin Affan karena sikap dan perilakunya yang mulia dan ikhlas dalam usahanya mengembangkan Islam.

Setelah menjadi Khalifah, banyak yang dilakukan untuk memajukan Islam. Salah satu jasanya adalah mendirikan kelompok penerbit Al-Quran yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Hal ini karena ketertarikannya kepada umat Islam tentang cara membaca Al-Qur’an karena teks-teks yang ada tidak memiliki urutan dan ada perselisihan tentang cara membacanya.

Langkah pertama adalah mengumpulkan mushaf Al Quran yang ada di masyarakat. Karena mushaf Alquran di kalangan masyarakat bisa saja tidak sesuai dengan kebenarannya. Tugas selanjutnya adalah menyalin dan menyusun mushaf Al-Qur’an yang ada kaitannya dengan mushaf-mushaf yang disimpan oleh Hafsah binti Umar yang masih terpelihara dengan baik dan benar. Al-Qur’an yang direkam atau diterbitkan kemudian disebut “Mushaf Al-Imam” atau Mushaf Utsmaniyah untuk dijadikan pedoman dalam membaca Al-Qur’an yang benar.

2.  Kedermawanannya
Sayyidina Utsman bin Affan dikenal sebagai sosok yang dermawan. Pada masa Khalifah Abu Bakar, kota Makkah dilanda kelaparan akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Ketika datang dari negeri Syam Utsman datang kafilah dagang dengan 1000 unta membawa makanan. Sebelum memasuki kota, rombongan Sayyidina Utsman dihentikan oleh para pedagang Mekkah untuk membeli semua barang bawaan Utsman dengan imbalan keuntungan yang banyak. Namun Sayyidina Utsman tidak tergiur sama sekali karena ia berniat memberikan semua barang yang dibawanya kepada fakir miskin.

3.  Keberanian
Khalifah Utsman bin Affan tidak kenal takut di hadapan 120.000 tentara Romawi di Afrika Utara yang diperlengkapi sepenuhnya untuk perang. Ketika wilayah Islam meluas dan banyak wilayah dikelilingi oleh lautan, untuk melindungi wilayah Muslim dari serangan musuh, Khalifah Utsman mendirikan armada dan pasukan angkatan laut.Islam selalu menang dalam pertempuran laut.

4.  Sederhana dan Rendah Hati
Sayyidina Utsman bin Affan tergolong orang kaya, namun ia tidak hidup dalam kemewahan. Perilakunya dalam hidup sederhana dan tidak mencolok, seperti berpakaian, makan, dan hidup.

Syurahbil bin Muslimin melaporkan bahwa “Utsman biasa makan enak seperti yang biasanya disajikan oleh para penguasa, tetapi di rumah dia biasa makan roti dengan cuka atau minyak.”

5.  Teguh dalam iman
Setelah mendengar Sayyidina Utsman bin Affan masuk Islam, pamannya Al Hakam bin Abil Ash sangat marah. Utsman diikat dan dipukul berkali-kali untuk kembali ke agama leluhurnya. Namun Sayyidina Utsman tetap teguh pada keyakinannya dan tidak akan meninggalkan agama yang diajarkan Nabi bagaimanapun caranya. Tahun

Ketika pamannya menemukan keyakinan Sayyidina Utsman yang tak tergoyahkan dan tidak mampu memaksanya kembali ke keyakinan leluhurnya, Al Hakam akhirnya membebaskan Sayyidina Utsman bin Affan

Kultum Pertemuan XI
Oleh: Ummu Tunda

MENUMBUHKAN SIFAT QONAAH

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh, ashsholatu wassalamu'ala Rasulillah 
Allahumma sholi 'ala sayyidinaa Muhammad wa 'ala aaliihi waashshohbihi ajma'in wa ba'du

Kekayaan hati itu hakikatnya adalah qana’ah, karena itulah hakekat kekayaan. 

Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah banyak harta benda,akan tetapi kekayaan yang hakiki itu adalah kekayaan hati.” [HR. Bukhari dan Musllim]

Maka ketika kita menganggap dunia ini rendah, hina dan kita melihat akhirat itu segala-galanya dan hati kita pun hanya berharap kehidupan akhirat, maka disaat itulah akan selalu muncul zuhud dalam hati kita, dan muncullah rasa qana’ah yang menyebabkan kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada kita. 

Agar kita memiliki sifat qana’ah:
1.  Hanya berharap kehidupan akhirat dan menganggap remeh dan menganggap hina dunia ini.

2.  Mengingat tentang hisab nanti pada hari kiamat. 
Semakin banyak kekayaannya, banyak harta bendanya, semakin berat hisabnya di hari kiamat. Ketika kita mengingat hisab pada hari kiamat, bahwa semua yang kita miliki berupa harta kita, baju kita, semua itu akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka di saat itu kita akan merasa takut, setiap kali kita membeli sesuatu kita akan berpikir apa manfaatnya buat diri kita, setiap kita menginginkan sesuatu dari harta orang lain, apa manfaatnya buat kita, itu semua akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Apakah kita mengira yang kita miliki itu tidak akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Oleh karena itulah Ali Bin Abi Thalib mengatakan tentang dunia kata beliau apa? “haramnya adzab, halalnya hisab.” Berarti kita di dunia ini diantara haram yang menimbulkan adzab, atau halal yang akan dihisab. Maka ketika seseorang mengingat Yaumul Hisab, pada waktu itu dia akan merasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan insya Allah dia merasa qana’ah di hatinya, jiwa qana’ah itu akan muncul di hatinya.

Sedangkan perbedaan harta 1 tutup kepala akan dihisab selama 70 tahun, betapa berat dan lamanya hari hisab itu.

Wallahua'lam bisshowab
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Kultum Pertemuan XI
Oleh: Ummu Tunda

MENUMBUHKAN SIFAT QONAAH

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh, ashsholatu wassalamu'ala Rasulillah 
Allahumma sholi 'ala sayyidinaa Muhammad wa 'ala aaliihi waashshohbihi ajma'in wa ba'du

Kekayaan hati itu hakikatnya adalah qana’ah, karena itulah hakekat kekayaan. 

Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah banyak harta benda,akan tetapi kekayaan yang hakiki itu adalah kekayaan hati.” [HR. Bukhari dan Musllim]

Maka ketika kita menganggap dunia ini rendah, hina dan kita melihat akhirat itu segala-galanya dan hati kita pun hanya berharap kehidupan akhirat, maka disaat itulah akan selalu muncul zuhud dalam hati kita, dan muncullah rasa qana’ah yang menyebabkan kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada kita. 

Agar kita memiliki sifat qana’ah:
1.  Hanya berharap kehidupan akhirat dan menganggap remeh dan menganggap hina dunia ini.

2.  Mengingat tentang hisab nanti pada hari kiamat. 
Semakin banyak kekayaannya, banyak harta bendanya, semakin berat hisabnya di hari kiamat. Ketika kita mengingat hisab pada hari kiamat, bahwa semua yang kita miliki berupa harta kita, baju kita, semua itu akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka di saat itu kita akan merasa takut, setiap kali kita membeli sesuatu kita akan berpikir apa manfaatnya buat diri kita, setiap kita menginginkan sesuatu dari harta orang lain, apa manfaatnya buat kita, itu semua akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Apakah kita mengira yang kita miliki itu tidak akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Oleh karena itulah Ali Bin Abi Thalib mengatakan tentang dunia kata beliau apa? “haramnya adzab, halalnya hisab.” Berarti kita di dunia ini diantara haram yang menimbulkan adzab, atau halal yang akan dihisab. Maka ketika seseorang mengingat Yaumul Hisab, pada waktu itu dia akan merasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan insya Allah dia merasa qana’ah di hatinya, jiwa qana’ah itu akan muncul di hatinya.

Sedangkan perbedaan harta 1 tutup kepala akan dihisab selama 70 tahun, betapa berat dan lamanya hari hisab itu.

Wallahua'lam bisshowab
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Materi SIMULASI XI
Oleh: Ummi Titin

Takholi, Tahali, Tajalli 
تخلي تحلي تجلي

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على أمور الدنيا والدين.
والصلاة والسلام على اشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله واصحابه أجمعين. امابعد.
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد.
رب زدني علما وارزقني فهما.
سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم
Bismillahirrahmanirrah
Alhamdulillahirrabil'alamiin wabihi nasta'iinu 'ala umuuriddunyaa waddiin.  Washsholatu wassalamu 'alaa asyrafilanbiyaai walmursaliin wa 'alaa aalihii washohbihi ajma'iin. Ammaa ba'du.  Allahumma sholli 'alaa sayyidina Muhammad wa'alaa aali sayyidina Muhammad. 
Rabbanaa zidnaa Ilman warzuqnaa fahman.

Rabbisyrahlii shodrii wayassirlii amrii wahlul uqdatammillisaani yafqohu qouli.

Perjalanan hidup manusia untuk meraih kesempurnaan "sebagai manusia" karena kesempurnaan hakiki adalah milik Allah SWT (insan al-kamil) Sekurang-kurangnya ada tiga hal seperti yang dicontohkan ulama salaf terdahulu. 

Pertama, mengosongkan atau membersihkan jiwa (takhalli). Setiap orang memiliki kecenderungan yang berpotensi membuat kotor jiwa atau rohaninya. Kotoran jiwa seperti hubbub ad-dunya (cinta dunia), panjang angan-angan (thulu al-amal) dan sejenisnya harus dibersihkan karena ia hanya hanya menjadi tabir penghalang bagi manusia untuk lebih mencintai Allah SWT.

Kedua, memperindah diri (tahalli). Selama ini manusia hanya sibuk memperbaiki fisik dan lalai pada keindahan jiwa. Tidak sedikit di antara kita yang meluangkan waktu lama bersolek di depan cermin namun tergesa-gesa tatkala sedang berada di atas sajadah beribadah kepada Allah SWT. Padahal kecantikan jiwalah yang kelak dapat mengantarkan manusia keindahan yang hakiki yakni perjumpaan hamba dengan sang Maha Indah kelak dalam surgaNya.

Ketiga, menyambungkan diri dengan Allah SWT (tajalli). Seorang hamba yang menempuh jalan tajali akan mengarahkan sejauh mata memandang selalu bermuara pada keindahan Allah SWT, kemuliaanNya, kasih-sayangNya, kebaikanNya, kekuasaanNya, dan seterusnya. Manusia yang sudah nyambung dengan Allah SWT mengerahkan seluruh panca indra bergerak ke satu arah titik focus yakni, hanya dari, untuk, dan kepada Allah SWT kehidupan yang senyata-nyatanya.

Bergembiralah dan tautkan seluruh ikhtiyar kita pada tiada daya dan upaya kecuali dengan Tuhan (La haula wala quwwata illa billah) sembari menanamkan dalam hati sesungguhnya kami milik Tuhan dan kepadaNya akan berpulang (Inna lillahi wainna ilaihi rajiun).

Pengertian Takhalli
Takhalli adalah tahap penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela. Tahap ini dilakukan dengan cara menjauhi segala hal yang dapat mengotori jiwa, seperti dosa, maksiat, dan perbuatan yang tidak bermanfaat. Takhalli dapat dilakukan dengan cara:
  • Melakukan riyadhah, yaitu latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu dan membersihkan jiwa.
  • Melakukan mujahadah, yaitu perjuangan melawan hawa nafsu dan godaan syaitan.
  • Melakukan zuhud, yaitu sikap tidak mementingkan dunia dan lebih mengutamakan akhirat.
  • Melakukan tawakal, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT.
  • Melakukan sabar, yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang tidak menyenangkan.
  • Melakukan ikhlas, yaitu melakukan sesuatu hanya untuk Allah SWT.

Pengertian Tahalli
Tahalli adalah tahap mengisi jiwa dengan sifat-sifat terpuji. Tahap ini dilakukan dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan bermanfaat, seperti:
  • Beribadah kepada Allah SWT.
  • Menolong orang yang membutuhkan.
  • Berkata yang baik.
  • Berbuat yang baik.
  • Menjaga diri dari perbuatan dosa.
  • Menjaga diri dari perbuatan maksiat.
  • Menjaga diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat.

Pengertian Tajalli
Tajalli adalah tahap ketika Allah SWT menampakkan diri kepada hamba-Nya yang telah mencapai tingkat kebersihan jiwa yang tinggi. Tajalli dapat berupa:
  • Perasaan tenang dan damai.
  • Perasaan dekat dengan Allah SWT.
  • Perasaan cinta kepada Allah SWT.
  • Perasaan takut kepada Allah SWT.
  • Perasaan rindu kepada Allah SWT.
  • Perasaan bahagia dan sejahtera.

Tajalli merupakan tujuan akhir dari akhlak. Tajalli adalah bukti bahwa Allah SWT telah menganugerahi hamba-Nya dengan kasih sayang dan cinta-Nya yang besar.

Pentingnya Takhalli, Tahalli, dan Tajalli
Takhalli, tahalli, dan tajalli adalah tiga tahapan penting dalam akhlak yang dapat membawa seseorang kepada kesempurnaan spiritual. Takhalli dapat membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, tahalli dapat mengisi jiwa dengan sifat-sifat terpuji, dan tajalli dapat membuat seseorang merasakan kehadiran Allah SWT di dalam jiwanya.

Orang yang telah mencapai tingkat kebersihan jiwa yang tinggi akan merasakan kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan yang luar biasa. Mereka akan merasa dekat dengan Allah SWT dan merasakan kasih sayang-Nya yang besar. Mereka juga akan dapat membantu orang lain dan membuat dunia menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, takhalli, tahalli, dan tajalli adalah tiga tahapan yang sangat penting bagi setiap orang yang ingin mencapai kesempurnaan spiritual.

Dalil Takhalli, Tahalli dan Tajalli
Konsep Takhalli, Tahalli, dan Tajalli memiliki dasar-dasar atau dalil-dalil yang mendukung makna dan praktik-praktik yang terkait dengan ketiga tahapan tersebut. Berikut adalah beberapa contoh dalil yang mendukung konsep tersebut:

Dalil Takhalli:
Al-Quran: “Dan barangsiapa yang membersihkan dirinya, maka sesungguhnya dia membersihkan diri bagi (faedah) dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembalinya.” (Surat Al-Fatir, 35:18)

Hadis Nabi Muhammad: Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak menahan kemarahannya, maka Allah tidak akan menahan murka-Nya dari orang itu.” (HR. Al-Bukhari)

Dalil Tahalli:
Al-Quran: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Surat Al-Ahzab, 33:21)

Hadis Nabi Muhammad: Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Dalil Tajalli:
Al-Quran: “Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti (cahaya) sebuah lubang di dalamnya terdapat pelita. Pelita itu di dalam kaca (yang bersinar), (cahaya itu) seolah-olah bintang (yang menerangi), dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang (tumbuh) tidak di sebelah timur (pohon itu) dan tidak pula di sebelah baratnya, (minyak itu) hampir-hampir menerangi walau tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan untuk manusia. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surat An-Nur, 24:35)

Hadis Nabi Muhammad: Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak tertawa dan sedikit menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Wallahua'lam bishshawab. Sesungguhnya kebenaran dari Allah dan janganlah kita menjadi orang yang meragukan kebenaran.

Subhanallah rabbika rabbil 'izzati amma yasifuun wassalamun 'alal Mursalin walhamdulillahirabbil 'alamiin.

DOA MUHASABAH
Oleh: Ibu Hj. Untitik

Bismillahirrahmanirrahim 

"Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati berkumpul atas dasar cinta kepada-Mu; bertemu atas dasar taat pada-Mu; bersatu atas dasar dakwah kepada-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu. Maka kuatkanlah yaa Allah, ikatan pertaliannya; lestarikanlah kasih sayangnya; tunjukkanlah jalannya; dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tiada redup; lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman kepada-Mu dan indahnya tawakal pada-Mu; hidupkanlah ia dengan makrifat kepada-Mu; dan matikanlah ia sebagai syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Aamiin Ya Allah."

Yaa Rabb ridhoi kami, berkahi dan rahmati kami yang sedang saling mengingatkan dalam majelis ilmu.

Luruskan niat kami, ampuni dosa dan kesalahan kami, mudahkan kami untuk memahami dan mengamalkan ilmuMu.

Juga berikan kebaikan, kemenangan, kejayaan pada ummat Rasulullah SAW, khususnya di Palestina Syam, Khasmir India, Rohingya Myanmar, Irak dan Yaman serta di manapun mereka berada.  Kuatkan iman mereka, berikan kesabaran, dan keikhlasan menjalani ketentuanMu.  Mudahkan bagi kami meneladani iman mereka yang teguh dan taktergoyahkan.  Yang tak tertukar dengan nikmat dunia.

Alfatihah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHUTBAH JUM'AT-FAIDAH DAN HAKIKAT TAQWA

PERTEMUAN X SIMULASI (MC)